Suka Oemar Kayam

Sejak mulai suka membaca, saya jarang sekali membaca karya asli Indonesia. Dulu waktu SD tentu memang saya baca karya-karya Marah Rusli, Sanusi Pane, dan lain-lain. Karna di perpustakaan sekolah adanya ya itu. Tapi dengan kesadaran sendiri, saya lebih suka membaca komik (yang sepertinya bukan karya sastra), dan karya luar negri sebangsa Enid Blyton.Begitu agak dewasa, saya lebih suka baca cerpen dan novel rusia. Ceritanya sungguh membuat tersenyum dan miris sekaligus. Terutama kalau penulisnya Nikolai Gogol.

Tapi biarpun lebih sering baca karya penulis impor, sejak SD sampai Oemar Kayam meninggal, saya ngefans banget sama tokoh-tokohnya di kolom Umar kayam di Harian Kedaulatan Rakyat. Mulai dari Pak Ageng, Mobilnya yang rusak-rusakan, sampe kitchen kabinet yang dipimpin oleh pembantunya.

Saya mulai membaca Pramoedya sejak kuliah dan juga mulai suka. Mulai baca novel kontemporer jaman sekarang juga. Tapi nggak ada tuh yang tulisannya model UK. Lucu lucu menyentuh ironis miris geli aneh  realistis dan seringnya nanggung itu. Mungkin YB Mangoenwijaya agak bisa memuaskan saya, tapi karakternya beda. Ada nuansa yang aneh dan unik dn kalo saya berlebihan, magis, kalo baca karangan ato novel UK. Secangkir kopi dan sepotong donat, seribu kunang-kunang di Manhattan dan juga cerita lainnya.

pak umar dan buku seribu kunangkunang di manhattan *entah cetakan ke berapa,yang saya punya sih yang sampulnya putih :D*

Saya terus membaca novel dan cerita. Tapi kecuali Pramoedya dan  Mustofa Bisri, dan karya Tan Malaka atau Goenawan Muhammad, saya lebih suka novel luar negri dari manapun jepang, rusia sampai brazil.Emm, kecuali ernest hemingway yang detailnya bisa bikin saya bosan dan ngantuk meski baru baca 4 halaman.

Novel Indonesia, saya lebih suka baca karya lamanya Pram, UK atau YB. Habisnya, saya nggak sreg sih sama novel-novel kontemporer Indonesia. Apalagi yang karya perempuan. Misalnya Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Fira Basuki dan sebangsanya. Saya punya beberapa karyanya, namun entah mengapa saya kok tiap kali baca rasanya dunia ini jadi suram gelap gulita dan pengen marah sama dunia. Trus pake acara deg-degan segala. Jadi untuk beberapa karya barunya, saya milih enggak beli, enggak pinjem dan enggak baca. Rasa-rasanya, realita yang mereka bawa dalam cerita itu seperti mimpi-mimpi buruk yang coba saya hilangkan sebelum saya tidur dan kenyataan-kenyataan hidup yang ingin saya hindari. Takut bacanya. Oh ya kecuali untuk dewi lestari. Saya masih tetap suka dia.

Jadi, sampai belum ada orang yang bisa meyakinkan saya bahwa novel-novel itu perlu dibaca dan memang sebenernya perlu, Saya belum akan membaca karya mereka lagi. Dan lebih suka dengan satra asing, sastra-sastra Indonesia tua atau yang bermateri tua setidaknya.Jadi kalo untuk karya indonesia, tetep yang paling saya suka ya karya pak oemar kayam 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s