Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Petter adalah seorang anak yang penyendiri. Dia adalah anak pintar yang tidak menganggap dirinya sendiri pintar. Petter merasa pada kehidupan sebelumnya dia adalah taman bermain Tivoli seisinya. Sejak kecil hingga besar, imajinasi Petter berlimpah-limpah. cerita demi cerita muncul dalam benaknya. terkadang semua itu sangat mengganggu sehingga Petter harus mengosongkan suara-suara dalam kepalanya melalui tulisan.

Petter selalu ditemani oleh pria kecil bertopi laken yang tingginya semeter. Pria ini tadinya ada dalam mimpi Petter, tapi suatu hari Petter tidak pernah menjumpai lelaki ini dalam mimpi. Dia ada ketika Petter bangun, berdiri dan mengikuti Petter kemanapun Petter pergi. Hanya Petter yang bisa melihatnya. Pria ini selalu mengikuti Petter hingga Petter tua dan menjadi pria penjual dongeng yang bagai laba-laba, memintal jaring para penulis di wilayah skandinavia dan beberapa wilayah dunia lainnya.

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng by Jostein Gaarder. lagi-lagi covernya jelek 😦 gimana sih ilustratornya

Petter adalah tokoh utama dalam cerita karangan Jostein Gaarder yang berjudul Putri Sirkus dan Lelaki Penjual dongeng. Diantara novel-novel jostein gaarder yang sudah pernah saya baca seperti dunia sophie dan misteri soliter, novel ini adalah karangan gaarder yang paling saya suka. ceritanya tidak serumit dan seberat dunia sophie dan tidak sehambar misteri soliter *terus terang membaca misteri soliter setelah membaca dunia sopie membuat misteri soliter garing dan basi*

Gaarder di dalam cerita ini menggambarkan dunia dan kehidupan penulis, orang-orang yang ingin menjadi penulis serta menyindir mereka. melalui sudut pandang Petter, garder menggambarkan sosok penulis ideal maupun penulis yang sok idealis menurutnya. Kalo saya sendiri sih merasa tersindir oleh beberapa paragraf-paragraf gaarder mengenai penulis. ehhmmm bukan tersindir sih, tepatnya tergugah. begini salah satu paragrafnya:

Banyak pemula kekurangan sesuatu yang sangat mendasar, contohnya pengalaman hidup. Inilah miskonsepsi postmodern: anda dapat terlebih dahulu menulis dah hidup sesudahnya. Banyak anak muda yang ingin menjadi penulis ternama karena mereka ingin dapat hidup sebagai penulis. Ini ibarat meletakkan pedati di depan kuda penarik. Anda harus terlebih dahulu hidup, kemudian sesudahnya barulah memutuskan apakah anda punya sesuatu untuk disampaikan. Kehidupan itu sendiri adalah sebuah faktor yang sangat menentukan. Menulis adalah buah kehidupan. Kehidupan bukan buah dari penulisan.

waw, kereeennn. menurut saya paragraf ini dan novel ini secara keseluruhan bisa dijadikan sebagai cambuk bagi para calon penulis mengenai sekilas kehidupan penulis. Secara garis besar, novel ini selera saya banget. kalimat dalam alineanya ringkas, tidak beranak pinak. dan yang paling saya suka novel ini tidak menunjukkan afeksi berlebih baik dalam tulisan maupun cerita antar para tokohnya. semua cenderung flat dan tidak memancing emosi berlebih.

Seperti novelnya yang lain, gaarder tidak membuat tulisan yang meliuk-liuk dan berbunga-bunga. dalam novel ini sepertinya gaarder ingin pembacanya menangkap alur maju-mundur dan inti dari buah pikirannya. Oleh karena itu gaarder tidak membuat pembacanya terkuras emosinya *seperti dalam perahu kertas-nya dee* tapi melupakan alur dan buah pikirannya yang penting *nggak tau juga sih, atau gaarder yang mungkin tidak pintar berafeksi seperti Petter*

Saya setuju sekali dengan coment dari the Herald:
Putri sirkur mengukuhkan status Gaarder sebagai salah seorang penulis Skandinavia paling menonjol, sekaligus sebagai seorang novelis dan pendongeng yang andal.

Jujur novel ini memang luar biasa brilian *tentu saya bilang begini karna novel ini selera saya banget*. Meskipun ending yang menghubungkan antara putri sirkus dan lelaki penjual dongeng ini benar-benar ending yang paling tidak saya suka sedunia, tapi novel ini tetap memiliki magismo buat saya. Saya sendiri mungkin akan mulai yakin kalau sebelum lahir, Gaarder memang adalah taman bermain Tivoli dan seisinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s