Groupthink dalam PSSI vs LPI

Sudah lama saya tidak menulis mengenai fenomena komunikasi dan masalah dunia komunikasi. Kali ini saya ingin membahas groupthink, sebuah teori yang pertama kali dicetuskan oleh Irvings Janis (1972). Mengapa saya ingin membahasnya? karena dalam kehidupan organisasi baik itu sebagai tim, firma maupun birokrasi, sering terbentuk keyakinan kolektif dan delusi (Benabou, 2007). Sepertinya groupthink terjadi pada PSSI yaitu di dalam kelompok Nurdin Halid, Pak Besoes, dan tentu orang-orang yang mempertahankan mereka menjadi ketua. Saya bilang sepertinya karena saya tidak mengumpulkan bukti-bukti empiris untuk sengaja melakukan studi kasus pada PSSI. Kasus ini hanya saya pakai untuk mempermudah pemahaman tentang groupthink saja.

Dalam sebuah pembentukan kebijakan publik, atau kondisi kritis dalam sebuah perusahaan, groupthink sering muncul. Groupthink adalah sebuah modus berfikir yang sangat dipengaruhi oleh kohesivitas tinggi dalam kelompok. Bahwa solidaritas kelompok yang sangat mengikat sering menyebabkan proses mental anggota kelompok terhambat, dan sebuah kelompok yang anggotanya sangat dekat memungkinkan mereka membuat keputusan yang sangat inferior (Janis,  1972).

Dalam kondisi yang genting dan bencana kebijakan publik, seringkali anggota kelompok jatuh dalam kepercayaan diri yang terlalu berlebihan dan kebutaan yang disengaja. Groupthink secara sistematis menyebabkan kelompok mengabaikan sinyal peringatan, menghindari bukti,  menyingkirkan beberapa fakta penting atau hanya menginterpretasikan fakta-fakta tertentu dalam mengambil keputusan (Benabou, 2007).

 

dalam pikiran, semua anggota kelompok sebenarnya memiliki pemikiran yang sama: menolak, namun demi kohesivitas, pemikiran tersebut tidak diungkapkan

Kalau saya interpretasikan sendiri sesuai dengan pengertian diatas, tiap kita yang berkolompok rawan oleh adanya groupthink. inti dari group think adalah kohesivitas dan usaha untuk menjaga keharmonisan kelompok yang membuat para anggota kelompok cenderung saling tergantung dan bersatu untuk memecahkan masalah. Terkadang, dari keinginan untuk menjaga ke-kohesivitas-an, para anggota kelompok lain terpaksa tunduk pada anggota yang berpengaruh. Anggota berpengaruh mengintervensi pemikiran anggota kelompok lainnya, sehingga terkadang satu kelompok menjadi irasional, cenderung mengambil keputusan yang salah dan menentang pendapat dari siapapun di luar kelompok tersebut walaupun dalam hati kita menolak.

Misalnya saja pengakuan IGK Manila kalau Nurdin pernah mengatur pertandingan dengan meminta Manila mengganti wasit di pertandingan final sepak bola Jawa Timur melawan Papua, sepuluh menit sebelum pertandingan beritanya di http://bola.kompas.com/read/2011/01/08/17583695/Manila:.Nurdin.Pernah.Atur.Pertandingan

 

dan semuanya kompak mengatakan setujuuuuu

Benabou mencontohkan beberapa kesalahan pengambilan keputusan yang diambil karena terpengaruh oleh groupthink: meledaknya pesawat ruang angkasa Challenger (sebelum diluncurkan salah satu mekanik merasa ada yang salah, tapi karna kepala kelompok mengatakan pesawat siap luncur, maka pesawat diluncurkan), Invasi AS ke Irak yang ujungnya menghukum mati Saddam Hussein (Keputusan diambil mengabaikan protes negara-negara lain dan warga negaranya sendiri, mengabaikan fakta dan praduga tidak bersalah tiadanya senjata pemusnah masal di irak *sampai sekarang senjatanya nggak ketemu*. dan karena groupthink, sekutu-sekutu AS ikut mengirimkan tentara), dan juga krisis subprime mortgage di AS yang imbasnya membuat AS harus melakukan Bailout ratusan milyar dollar AS.

Ada 8 indikasi grupthink menurut Janis, mari kita kaitkan dengan yang terjadi pada PSSI vs LPI

1.  simptom kekebalan diri (illusion of invulnerability), dimana pada situasi ini sebuah kelompok akan memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi dengan keputusan yang diambil dan kemampuan yang mereka miliki. Mereka memandang kelompok mereka yang sangat unggul dan tidak pernah kalah dalam segala hal. Dengan sumberdaya dan legalitas yang dimilikinya, PSSI memiliki percaya diri tinggi sebagai lembaga yang supremasinya lebih unggul dari kelompok manapun. Dari segi dana, kualitas, dukungan FIFA dan lainnya, PSSI merasa tidak akan pernah kalah dalam segala hal.

2. Simptom yakin pada atribut moral dalam kelompok (Belief in Inherent Morality of the Group). Dalam bayang-bayang groupthink, anggota kelompok secara otomatis mengasumsikan kebenaran dari masalah mereka. Kata Miing, anggota komisi X DPR RI: “Menurut saya, penyakit ada di Pengda PSSI. Mereka harus sadar mengenai semakin buruknya prestasi timnas Indonesia. Sudah tujuh tahun Nurdin memimpin PSSI, tetapi tidak ada prestasi,” ungkap Miing. Sampai tanggal blog ini dibuat sepertinya dalam tubuh PSSI tidak ada gejolak. Pengda juga kompak aja membenarkan tindakan ketuanya.

3. Rasionalisasi Kolektif (Collective Rationalization). Rasionalisasi kolektif mendukung sebuah mindset “hear no evil, see no evil, speak no evil”. Contohnya adalah pendapat I G  Manila di wawancara kompas “Dia (Nurdin Halid) enggak bisa berkaca diri. Mungkin di rumah dia enggak ada cermin. Orang sudah bilang dia gagal, dia bilang tidak. Disuruh mundur, dia enggak mau. Satu-satunya jalan yaitu revolusi, harus segera dimulai,” ungkap Manila, Senin (10/1/2011), saat mendatangi kantor KPK bersama Indonesia Corruption Watch (ICW), Jakarta.

4. Membuat stereotype pada kelompok luar. Sterotype ini membuat anggota kelompok yang terpengaruh oleh groupthink terkesan merendahkan semua yang di luar kelompok. PSSI memang tidak mengakui LPI sebagai kompetisi resmi. LPI dianggap tidak pantas dan tidak bisa menyelenggarakan kompetisi yang sama. Namun induk sepak bola tertinggi di Indonesia tersebut juga tidak bisa melarang kompetisi yang dibentuk oleh Arifin Panigoro tersebut bergulir karena penyelenggaraan LPI dinaungi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). PSSI menyetereotype-kan semua yang telibat dalam LPI adalah ilegal.

 

LPInya pak arifin panigoro

5. Simptom menyensor diri sendiri. Orang yang terpengaruh groupthink menyensor informasi-informasi yang perlu mereka ketahui saja dan yang mereka inginkan saja. Meski sudah ada kritik dari berbagai pihak, namun PSSI sepertinya mempunyai penyaring untuk tidak mempertimbangkan apapun yang tidak sesuai dengan pendapat mereka.

6. Ilusi Persetujuan dari semua anggota (Illusion of Unanimity). Para anggota groupthink lain terbelit dalam ilusi bahwa apa yang mereka lakukan disetujui oleh anggota kelompok lainnya. PSSI memiliki ilusi bahwa yang mereka lakukan akan mendapat dukungan dari anggota FIFA lainnya. Dan Nurdin berilusi bahwa yang dia lakukan akan mendapat dukungan dari partai yang didukungnya. Wakil Ketua DPR Pramono Anung mengecam pernyataan Ketua PSSI Nurdin Halid yang menyebutkan bahwa prestasi tim nasional Indonesia merupakan hasil campur tangan Golkar.

7. Tekanan Langsung pada penentang (Direct Pressure on Dissenters). Umumnya anggota kelompok melakukan tekanan frontal secara langsung pada kelompok atau orang lain yang menentang mereka. PSSI sempat mengancam para pemain, wasit, atau hakim garis jika ikut LPI akan dicoret dari timnas. Dan bahkan pemain yang belum ikut klub di PSSI tidak akan bisa masuk skuad timnas yang akan disiapkan untuk kompetisi di tingkat asia seperti Sea Games, Asian Games atau bahkan tingkat dunia.

8. Melindungi Pikiran Sendiri (Self-Appointed Mindguard-susah terjemahnya). Umumnya pimpinan kelompok dan anggota kelompok lainnya memprotek pikiran mereka dari ide-ide yang menyulitkan mereka maupun kelompok. I GK Manila bilang “Kalau ada ide bagus yang seharusnya meringankan PSSI, tapi PSSI mengangap bakal menjatuhkan PSSI. Jadi kemungkinan apakah ini ada semacam ancaman hilangnya “periuk nasi?” seperti yang telah diperkirakan banyak orang?”

Dengan indikasi diatas, PSSI terlilit dalam groupthink. Kalo menurut Benabou, ada penangkal groupthink atau kebalikan groupthink, yaitu group morale. Tapi kalo moralnya sudah terbelit oleh groupthink, apa nggak sama aja?

Dan jangan salah, dalam kelompok sekecil geng 5 orang, groupthink sangat sangat sangat mungkin terjadi 🙂

Source:

Benabou, R. (2008). Groupthink:Collective Delusions in Organizations and Markets. Princeton University , 1-49

Janis, I. (2006). Groupthink. In E. Griffin, a First Look At Communication Theory. McGraw-Hill.

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/bicara_fakta/2011/01/05/19/PSSI-vs-LPI-Adakah-Ancaman-Hilangnya-Periuk-Nasi

http://bola.kompas.com/read/2011/01/14/14341033/Siapkan.Hukum..LPI.Jalan.Terus

http://bola.kompas.com/read/2011/01/19/11522455/Pramono:.Nurdin.Halid.Keblinger

http://bola.kompas.com/read/2011/01/10/15052978/Manila:.Nurdin..quot.Ndableg.quot…PSSI.Harus.Direvolusi

http://bola.kompas.com/read/2011/01/15/04230959/Jangan.Pilih.Nurdin.Halid.Lagi.

Advertisements

2 thoughts on “Groupthink dalam PSSI vs LPI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s