being analog for a while

Lama banget gak update blog.
Belakangan ini saya sangat menikmati ‘me-time’ versi analog. Saya nggak bukak FB berhari-hari-hari kecuali buwat maen restaurant city doang. nggak bukak blog sama sekali dan nggak bukak imel haghag.

walaupun dosen saya dulu sudah menanamkan pentingnya information comunication technology (ICT), dan betapa orang komunikasi harus menguasai teknologi media, saya tetep aja nyaman menjadi manusia analog ahihihihik. yah, saya masih buka kompas.com dan detik.com sih, biar nggak ketinggalan gosip. tapi hari-hari biasa yang saya lakukan adalah ini:

dua minggu ini saya membaca dan memotongi berita-berita menarik di kompas. analog banget. lebih gampang klik and save dari portalnya. but this is fun. i collect almost 50 articles 🙂

pada dasarnya saya memang cenderung ke analog. jam tangan aja saya pilih jam tangan analog punya bapak saya pas beliau kuliah daripada jam digital yang underwater-bisanyala digelap-gelapan-whatsoever. masalahnya jam digital dengan presisi waktu yang akurat hingga ke detik, anaknya detik dan cucunya detik itu menyiksa saya haghag. toh saya bukan timer di terminal hawhaw. ini kan masalah selera aja. kalo dikasih jam digial juga saya nggak nolak 🙂

my beloved analog watch. awet n klasik boooo’

trus untuk pembukuan keuangan, saya lebih suka pake buku tulis biasa yang saya garisin sendiri. pacar saya bilang mending pake microsoft exel aja. tapi saya mikir kalo exel gak bisa dicoret2 pake pensil warna, lah nanti pensil warna color pep’s saya nggak kepake dong. trus harus buka-buka netbook lagi. ribet. nggak bisa dibolak-balik dan dilipet sambil geleng-geleng kepala atau senyum-senyum haghag. alasan yang sama kenapa saya mending beli buku berkilo-kilo dan mahal ketimbang e-book yang bisa donlot gratis ato copy printscreen di google-book.

saya masih memakai cara konvensional. membagi fix cost dan variable cost dalam buku catatan dan mewarnai yang sekiranya shocking 😀

Hagz. bukannya digital nggak bagus. mp3 lebih awet daripada kaset. atm adalah salah satu penemuan brilian sepanjang masa. kamera pocket digital lebih praktis dibanding kamera SLR analog yang manual banget. gps lebih oke daripada kita gelar peta dijalanan buat nemuin lokasi tertentu. Biar kata marshall mcLuhan, technology is extension of man (1964) dan digitalisasi adalah extention of man juga, tapi kalo masih nyaman analog ya gak masalah kan?.sama seperti alasan drew barrymore nggak punya twitter *mid 2010 nggak tau sekarang dah punya belom*, katanya: twitter?i don’t think that we are that far, alias saya merasa jarak kita belum sejauh itu untuk dikoneksikan dengan twitter. kalo alasan saya nggak aktif twitter ya karna selain saya analog ya karna emang belom paham aja makenya, jadi nggak menikmati, trus nggak ada apikasi game-online-nya akakak.

ah. terserah saja. mungkin saya terlalu muak dan masih trauma dengan ratusan e-journal tentang konvergensi media yang bikin keriting dan belom semua saya baca demi tesis saya *6 bulan berlalu masih bikin emosi*. akhirnya saya harus banting setir ganti judul. makanya saya nggak suka digital haghag. bagaimanapun kalo masih nyaman dengan analog, dan selama tidak berhubungan dengan alat kesehatan dan the survival of human being, biarkan yang digital itu. kalo harganya sudah kebanting. terinjak-injak, turun sampe ke kerak bumi., baru deh dipake hehehe.

Advertisements

Why Study New Technologies?

Why??Why???????Why should we?
Tiada hari tanpa siksaan teknologi komunikasi *sighh*.

Dari bermacam jenis simpangan, sempalan, pretelan, dan an an lainnya dari ilmu komunikasi, teknologi komunikasilah yang paling saya tidak sukai. Mumet. Teknis banget. Dan yang jelas terlalu masuk ke ranah teknologi informasi a.k.a teknik informatika.

Semua dibahas mulai dari Frekuensi sampe segalanya yang berhubungan dengan iternet dan media baru..

Tapi karna semester lalu Prof Alwi begitu getolnya membahas masalah new teknology yang mendasari teknologi komunikasi, dan  karena mas dosen yang itu juga terus2an menyiksa dengan semua hal yang berbau teknologi komunikasi. Juga beberapa pembicaraan yang terdengar beberapa waktu lalu kalo banyak dari area-area teknologi informasi yang sebenernya merupakan bagian dari ilmu komunikasi.

Katanya sih anak komunikasi tidak seharusnya cuma jadi CS ato paling mentok corcomm di perusahaan telekomunikasi. Paling nggak bisa masuk ke bagian2 teknisnya, dan kalo bisa justru menggagas konsep2 yang bla..bla..bla… apa lagi gitu lupa terusannya, intinya seperti itu. Makanya teknologi  itu penting dipelajari.

taken from mynameisnoe.wordpress.com..kata pak dosen, lulusan komunikasi nggak boleh mentok jadi begini dowangg

Ternyata omongan mereka itu ada justifikasinya (ya iya lah, Mosok Prof PhD, sama MA ngomong tak berdasar. Secara tiap pertemuan yg dibahas, saya ini udah tua tapi masih berusaha terus mencari ilmu2 baru, saya baca tiap hari 10 buku, resume sudah biasa ya ya ya)..

Kata si Grant, salah satu yang penting dalam mempelajari media adalah karena teknologi baru itu sepertinya akan mendapat semakin banyak pehatian dibanding yang tradisional, sehingga teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri (ya ya kita bicarakan Arnold Pacey nanti ok) .

Seperti yang kita semua tau, dan itu juga dikatakan oleh Grant, alasan mempelajari teknologi baru adalah karena ia dinamis dan ber-evolusi lebih cepat. Sehingga menimbulkan potensi besar untuk merubah bagian sistem media.

taken from http://www.heroturko.org.Nih bukunya si pak grant.Dan lagi-lagi yang saya punya adalah yang versi copy *guilty*

Beberapa alasan lain belajar teknologi baru mungkin karena masalah keuangan. Banyak orang yang berusaha meraup uang dari teknologi baru—tapi banyak juga uang yang ilang karna teknologi baru. Kata Grant, kalo kita pengen merencanakan karir di media, kita kemungkinan akan dengan mudah tertarik sama pengetahuan yang bikin kita ngerti mengenai bagaimana media berubah dan ber-evolusi, dan bagaimana perubahan itu akan mempengaruhi karir kita. (Mungkin nantinya semua media hanya butuh satu reporter untuk liputan, report, take picture, editing, sampe proses sebelum publishing. Jadi Redaktur mah satu aja nggak usah banyak2 heheww)

Terus, satu hal lagi yang penting. Kemungkinan mempelajari teknologi baru akan berguna ketika kita pengen belajar dari kegagalan teknologi komunikasi baru yg pernah terjadi. Sehingga kita bisa menghindari kegagalan di karir kita, investasi kita dll. Beberapa fakta –misal pas radio stereo AM dikenalkan tahun 80’an– menunjukkan bahwa mayorita s teknologi baru yg dikenalkan itu nggak terlalu sukses di pasar. Beberapa gagal karna teknologi baru itu terlalu jauh meninggalkan pasar (misalnya Qube, sistem tv kabel interaktif pertama yg dikenalin thn 1970an).

Lainnya gagal karna timing yang jelek aja, ato karna marketing yang agresif dari kompetitor yang mengalahkan teknologi baru, walo teknologi yang dimiliki kompetitor itu inferior.

Dan yang terakhir kenapa mempelajari teknologi baru itu penting…yaitu untuk mengidentifikasi pola dari adopsi, dampak, kesempatan ekonomis, dan kompetisi sehingga kita bisa bersiap untuk memahami, menggunakan dan berkompetisi dengan generasi selanjutnya dari media baru (cih..klasik..ha2).

Yah, ya. Itu mah kata2nya pak Prof, mas dosen dan tentunya kata August E Grant.  Percaya ato nggak sih terserah.
Tapi kalo aku pada dasarnya emang belom tergerak untuk menyukai atau mendalami teknologi komunikasi hehewww…

August E Grant PhD., Communication Technology Update and Fundamentals (11th edition), Focal Press. United States Of America. 2008 (Halaman 7)