harimau putih india

buku ini saya beli di gramedia ambon plaza hari minggu lalu. alasannya ceritanya tentang india oleh penulis india, terus covernya bagus, dan terutama ada komentar reviewer dari USA Today yang bilang merasa tertendang di kepala setelah membaca buku ini.

secara keseluruhan sih bagus. aravind menjual cerita gelap india yang memang sungguh mengenaskan. aravind menggambarkan sisi kelam india baik itu kotanya, sistem politiknya yang demokrasi parlementer, menceritakan tentang betapa miskinnya dan menyedihkannya orang india, juga mengilustrasikan dengan jelas posisi laki-laki dalam keluarga miskin India, dan terutama bagaimana seluruh india hidup dalam satu sistem. sistem kandang ayam, dimana 0,1% orang india menginjak 99,99 % orang india lainnya.

cover the white tiger by aravind adiga. bagus 😀

sensasi menendang kepala yang dikatakan oleh reviewer USA Today memang tidak main-main -kalau kita hidup di amerika-, tapi kalau kita hidup di Indonesia, ya nggak nendang kepala banget, mungkin cuma kayak ditoyor aja. soalnya pas jaman saya kecil tipi-tipi indo sering nyiarin felem india yang ceritanya tentang perlawanan rakyat jelata pada tuan tanah yang namanya tuan takur.

Bagusnya, kalo orang indonesia baca novel ini, mungkin mereka akan merasa beruntung hidup di indonesia semiskin apapun. aravind tidak memberitahu pembacanya india jaman apa yang dia kisahkan. tapi dari awal cerita, novel ini berwujud e-mail yang dikirimkan oleh si white tiger kepada wen jiabao. Wen jiabao sendiri masa jabatannya di Cina sana tahun 1998-2003. Jadi mungkin setting waktunya sekitar itu.

Mungkin ceritanya bisa saja tidak relevan dengan kondisi india sekarang, terutama setelah ada lahksmi narayan mittal dengan raksasa bajanya yang bahkan mulai menancapkan kuku di Indonesia dan juga setelah adanya tata group, dan berpuluh-puluh milyuner india yang mulai tercantum dalam list orang terkaya di dunia versi forbes. Bisa saja tidak relevan, tapi bisa juga relevan.

Terlepas dari semua itu, novel ini terlalu suram untuk orang amerika-an. mungkin, orang indonesia lebih paham. novel ini nggak susah dibaca. satu hari selesai dan tidak ada banyak paragraf yang bisa dijadikan qoute of the day saya. tapi kalo ingin tau tentang kehidupan india yang sebenar-benarnya, novel ini sungguh berani mengungkap sisi-sisi terkelam india.

saya mikir emangnya nggak papa ya si penulis ini nulis gitu. tapi saya mikir lagi, dengan sistem kandang ayam india, mungkin gak masalah. sama seperti balram si tokoh utama novel, mungkin aravind akan tenggelam -dalam arti tersamar- oleh miliaran penduduk india lainnya.

Advertisements

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Petter adalah seorang anak yang penyendiri. Dia adalah anak pintar yang tidak menganggap dirinya sendiri pintar. Petter merasa pada kehidupan sebelumnya dia adalah taman bermain Tivoli seisinya. Sejak kecil hingga besar, imajinasi Petter berlimpah-limpah. cerita demi cerita muncul dalam benaknya. terkadang semua itu sangat mengganggu sehingga Petter harus mengosongkan suara-suara dalam kepalanya melalui tulisan.

Petter selalu ditemani oleh pria kecil bertopi laken yang tingginya semeter. Pria ini tadinya ada dalam mimpi Petter, tapi suatu hari Petter tidak pernah menjumpai lelaki ini dalam mimpi. Dia ada ketika Petter bangun, berdiri dan mengikuti Petter kemanapun Petter pergi. Hanya Petter yang bisa melihatnya. Pria ini selalu mengikuti Petter hingga Petter tua dan menjadi pria penjual dongeng yang bagai laba-laba, memintal jaring para penulis di wilayah skandinavia dan beberapa wilayah dunia lainnya.

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng by Jostein Gaarder. lagi-lagi covernya jelek 😦 gimana sih ilustratornya

Petter adalah tokoh utama dalam cerita karangan Jostein Gaarder yang berjudul Putri Sirkus dan Lelaki Penjual dongeng. Diantara novel-novel jostein gaarder yang sudah pernah saya baca seperti dunia sophie dan misteri soliter, novel ini adalah karangan gaarder yang paling saya suka. ceritanya tidak serumit dan seberat dunia sophie dan tidak sehambar misteri soliter *terus terang membaca misteri soliter setelah membaca dunia sopie membuat misteri soliter garing dan basi*

Gaarder di dalam cerita ini menggambarkan dunia dan kehidupan penulis, orang-orang yang ingin menjadi penulis serta menyindir mereka. melalui sudut pandang Petter, garder menggambarkan sosok penulis ideal maupun penulis yang sok idealis menurutnya. Kalo saya sendiri sih merasa tersindir oleh beberapa paragraf-paragraf gaarder mengenai penulis. ehhmmm bukan tersindir sih, tepatnya tergugah. begini salah satu paragrafnya:

Banyak pemula kekurangan sesuatu yang sangat mendasar, contohnya pengalaman hidup. Inilah miskonsepsi postmodern: anda dapat terlebih dahulu menulis dah hidup sesudahnya. Banyak anak muda yang ingin menjadi penulis ternama karena mereka ingin dapat hidup sebagai penulis. Ini ibarat meletakkan pedati di depan kuda penarik. Anda harus terlebih dahulu hidup, kemudian sesudahnya barulah memutuskan apakah anda punya sesuatu untuk disampaikan. Kehidupan itu sendiri adalah sebuah faktor yang sangat menentukan. Menulis adalah buah kehidupan. Kehidupan bukan buah dari penulisan.

waw, kereeennn. menurut saya paragraf ini dan novel ini secara keseluruhan bisa dijadikan sebagai cambuk bagi para calon penulis mengenai sekilas kehidupan penulis. Secara garis besar, novel ini selera saya banget. kalimat dalam alineanya ringkas, tidak beranak pinak. dan yang paling saya suka novel ini tidak menunjukkan afeksi berlebih baik dalam tulisan maupun cerita antar para tokohnya. semua cenderung flat dan tidak memancing emosi berlebih.

Seperti novelnya yang lain, gaarder tidak membuat tulisan yang meliuk-liuk dan berbunga-bunga. dalam novel ini sepertinya gaarder ingin pembacanya menangkap alur maju-mundur dan inti dari buah pikirannya. Oleh karena itu gaarder tidak membuat pembacanya terkuras emosinya *seperti dalam perahu kertas-nya dee* tapi melupakan alur dan buah pikirannya yang penting *nggak tau juga sih, atau gaarder yang mungkin tidak pintar berafeksi seperti Petter*

Saya setuju sekali dengan coment dari the Herald:
Putri sirkur mengukuhkan status Gaarder sebagai salah seorang penulis Skandinavia paling menonjol, sekaligus sebagai seorang novelis dan pendongeng yang andal.

Jujur novel ini memang luar biasa brilian *tentu saya bilang begini karna novel ini selera saya banget*. Meskipun ending yang menghubungkan antara putri sirkus dan lelaki penjual dongeng ini benar-benar ending yang paling tidak saya suka sedunia, tapi novel ini tetap memiliki magismo buat saya. Saya sendiri mungkin akan mulai yakin kalau sebelum lahir, Gaarder memang adalah taman bermain Tivoli dan seisinya.

Firebelly

Akhirnya selese juga baca firebelly karangan J.C. Michaels. i must admit that i’m a slow reader *bukan karna saya nggak paham-paham, tapi karna saya suka sekali membaca satu paragraf berulang-ulang sampe feelingnya masuk kekeke*

Awalnya novel firebelly yang bernafaskan filsafat ini ruwet banget. apalagi pendahuluannya ada tiga. pengantar anak-anak, pengantar remaja, pengantar dewasa. Pengantarnya nggak ada hubungan sama sekali sama cerita firebelly. Kata Michaels sih buat pemanasan. tapi setelah saya baca emang pendahulan ini kayak simulator yang ada di game rollercoaster tycoon itu. jadi calon penumpang rollercoaster dimasukin ke simulator yang ngocok2 perut sebelum masuk ke roller coaster beneran. sama, pengantar ini memang bikin kening kerut merut pas baca. tapi pas udah baca, ternyata isi ceritanya nggak seruwet pendahuluannya.

Awal saya baca, saya seperti sedang membaca novel josteein garder yang judulnya “putri sirkus dan pria penjual dongeng”. terutama bagian bagaimana Michaels berbicara tentang mimpi yang bisa dikendalikan. Sama seperti gaarder ketika menceritakan tentang mengendalikan mimpi. bagaimana sang tokoh sulit membedakan antara kejadian nyata yang benar-benar terjadi di masa lalu dengan kejadian yang hanya khayalan dan mimpi saja.

Tapi cuma di situ saja, sih kemiripannya. Awal tok. Mulanya saya meremehkan J.C. Michaels dan novelnya ini, karna saya emang belum pernah denger dan pada sampul tidak terlalu mengumbar winner ini itu, best seller ini itu dan review menarik dari koran-koran besar. Tapi setelah baca, ternyata saya dan Michaels mempunyai selera yang nggak jauh beda. sama seperti yang suka novel-novel filsafat lainnya, pasti baca juga atau paling tidak tertarik pada Jean-Paul Sartre, Martin Heidegger, dan kawan-kawannya. Nah Michaels dengan gamblang menunjukkan warna-warna para penulis dan pemikir itu dalam bukunya. Bahkan di catatan akhir, Michaels memamerkan influencer dari novelnya mulai dari Gabriel Gale sampe Dostoyevsky (dua nama yang baru saya dengar T.T). Saya salah nilai. saya sudah menjudge dari cover.

firebelly by J.C. Michaels. Covernya nggak menjanjikan. Tapi isinya bagus 😀

secara garis besar, firebelly menceritakan katak asia jenis bombinatoridae yang biasanya disebut oriental firebelly toad bernama MP dan perjalanannya dalam memutuskan jalan hidup. Personifikasi Michaels terhadap katak sungguh bagus. cara menggabungkan dengan tokoh-tokoh manusia dalam cerita juga lumayan okay. walo saya lebih suka murakami dalam mempersonifikasi kucing *mungkin masalah persepsi saya terhadap kucing dan katak*.

Novel ini cukup sederhana pada dasarnya. Masalah yang dihadapi tokoh-tokohnya juga sebenarnya masalah sederhana yang dihadapi manusia kebanyakan. Namun sudut pandang katak dan manusia seperti claire, ayah caroline, pak levante dan tentu katak tua dan MP yang dipersonifikasi dalam memutuskan dan menilai permasalahan sederhana itu yang tidak sederhana dan sungguh bagus. Ceritanya berkisar pada masalah yang selalu dihadapi oleh manusia : pilahan untuk tetap di zona nyaman atau keluar dari zona nyaman; tetap terikat dan terkurung atau menjadi liar dan bertualang.

ada begitu banyak paragraf dan kata bagus yang bijak dalam novel ini. Tapi yang paling saya suka adalah perkataan katak tua kepada MP ketika masih di toko binatang peliharaan.

” Kalau kamu hidup di luar, dengan cepat kamu akan belajar untuk melindungi dirimu sendiri. Mula-mula kamu akan melompat untuk menghindari setiap bahaya, tapi kamu akan segera menyadari tidak ada tempat yang selalu aman. Sebenarnya hanya ada satu yang bisa kamu lakukan, terutama ketika bahaya mengintaimu dari setiap sudut…Sangat sederhana..Diam saja”

Good job J.C . Michaels 😀

kecewa buku murakami *ato penerbitnya ya?*

kecewa dengan novelnya haruki murakami yang kafka on the shore hikss…
bukan karna ceritanya sih..kalo ceritanya memang tetep okey walo agak beda dengan dua karya murakami yang pernah saya baca sebelumnya yaitu norwegian wood dan the wind-up bird chronicle. Novel kafka ini tetep diisi dengan percakapan-percakapan dan dialog antar tokoh yang ringan, simple, tapi bermakana dan menyenangkan. kadang juga lucu hahaha..

ini dia kafka on the shore yang udah cetak lama tapi baru bisa beli setelah menyelesaikan tesiiisss!!!hahahaha

sama seperti novel sebelumnya, nuansa pengaruh barat pada novelnya si murakami ini berasa banget. mulai dari musik klasik barat, pemikiran barat dan penulis barat semua tersirat di seluruh badan novel. cuma entah kenapa yang kafka ini memang ras-rasanya pas baca kok agak surem kayak pas saya membaca tulisan franz kafka yang judulnya metamorfosis, yang tentang kecoa itu. Rasanya kok franz kafka banget ini novel. bukan cuma karna nama tokoh utamanya kebetulan bernama kafka. agak-agak bingung penasaran dan mendebarkan tapi nggak selese-selese.

akhirnya sampe di ending novel juga alurnya berasa nggak konklusif dan kayak belum selesai, sama kayak pas saya baca norwegian wood. sampai akhir, saya masih belum menemukan kaitan antara nakata dan kafka. juga peran sakura dan ibu guru si nakata yang kayaknya tempelan doang. hoshino juga tiba-tiba aja muncul. beda sama norwegian wood yang tokoh-tokohnya menurut saya lebih jelas dan nyata perannya terhadap si tokoh utama. di novel ini lebih banyak tokoh terlibat dan semuanya serba metafora dan imajinatif.mungkin kalau saya belum pernah baca karya-karya murakami sebelumnya yang memang agak berbau rusia *menurut saya* saya nggak akan ngerti.

Ya biarpun ‘agak beda’, tapi sama seperti novel murakami yang lain, secara keseluruhan novel yang ini juga tidak mengecewakan saya. juga nggak lepas dari paragraf-paragraf yang agak mesum. yang jelas dialog-dialog tokoh dan penggambaran karakter utamanya cukup memuaskan, meski kalau di satukan dalam satu kesatuan cerita jadi kayak ada yang kurang.

tapi mungkin ketidak mengertian saya akan konklusi novel ini disebabkan oleh ini!!!!!!

look closely to this picture.halamannya bolong2.blank pages: 540-541;544-545;548-549;552-553;556-557;560-561;564-565;568-569 buku berakhir pada halaman 597!!

Liat aja, buku yang saya beli dari gramedia, yang cetakan alvabet sastra ini pada ilang2 halamannya. too many blank pages in the last chapter of this book..
Mau protes gimana, soalnya belinya udah dua minggu lalu. baru sempat dibaca tiga hari lalu dan nggak ngebolak-balik halamannya. mo protes ke alvabet kok males *hehehe* akhirnya menggerutu aja dalam hati. mungkin nanti saya akan menelepon. tapi untuk apa?untuk minta ganti buku?kalo di tuker tempatnya jauh, kalo di gramed struknya dah ilang. kalo ke alvabetnya jauh bener di tangerang arrggggghhhhh…

ini adalah pengalaman pertama aku membeli novel ilang-ilang halamannya begini. besok lagi kalo aku beli mo tak buka aja plastiknya depan kasir.trus aku bolak-balik ngecek dulu, biar kalo ada blank pages bisa di tuker.
beuh..kalo gini kan jadi nggak ngerti siapa si johny walker ato kolonel sanders itu. kan ada di halaman2 yang blank ituuuu :((((