Groupthink dalam PSSI vs LPI

Sudah lama saya tidak menulis mengenai fenomena komunikasi dan masalah dunia komunikasi. Kali ini saya ingin membahas groupthink, sebuah teori yang pertama kali dicetuskan oleh Irvings Janis (1972). Mengapa saya ingin membahasnya? karena dalam kehidupan organisasi baik itu sebagai tim, firma maupun birokrasi, sering terbentuk keyakinan kolektif dan delusi (Benabou, 2007). Sepertinya groupthink terjadi pada PSSI yaitu di dalam kelompok Nurdin Halid, Pak Besoes, dan tentu orang-orang yang mempertahankan mereka menjadi ketua. Saya bilang sepertinya karena saya tidak mengumpulkan bukti-bukti empiris untuk sengaja melakukan studi kasus pada PSSI. Kasus ini hanya saya pakai untuk mempermudah pemahaman tentang groupthink saja.

Dalam sebuah pembentukan kebijakan publik, atau kondisi kritis dalam sebuah perusahaan, groupthink sering muncul. Groupthink adalah sebuah modus berfikir yang sangat dipengaruhi oleh kohesivitas tinggi dalam kelompok. Bahwa solidaritas kelompok yang sangat mengikat sering menyebabkan proses mental anggota kelompok terhambat, dan sebuah kelompok yang anggotanya sangat dekat memungkinkan mereka membuat keputusan yang sangat inferior (Janis,  1972).

Dalam kondisi yang genting dan bencana kebijakan publik, seringkali anggota kelompok jatuh dalam kepercayaan diri yang terlalu berlebihan dan kebutaan yang disengaja. Groupthink secara sistematis menyebabkan kelompok mengabaikan sinyal peringatan, menghindari bukti,  menyingkirkan beberapa fakta penting atau hanya menginterpretasikan fakta-fakta tertentu dalam mengambil keputusan (Benabou, 2007).

 

dalam pikiran, semua anggota kelompok sebenarnya memiliki pemikiran yang sama: menolak, namun demi kohesivitas, pemikiran tersebut tidak diungkapkan

Kalau saya interpretasikan sendiri sesuai dengan pengertian diatas, tiap kita yang berkolompok rawan oleh adanya groupthink. inti dari group think adalah kohesivitas dan usaha untuk menjaga keharmonisan kelompok yang membuat para anggota kelompok cenderung saling tergantung dan bersatu untuk memecahkan masalah. Terkadang, dari keinginan untuk menjaga ke-kohesivitas-an, para anggota kelompok lain terpaksa tunduk pada anggota yang berpengaruh. Anggota berpengaruh mengintervensi pemikiran anggota kelompok lainnya, sehingga terkadang satu kelompok menjadi irasional, cenderung mengambil keputusan yang salah dan menentang pendapat dari siapapun di luar kelompok tersebut walaupun dalam hati kita menolak.

Misalnya saja pengakuan IGK Manila kalau Nurdin pernah mengatur pertandingan dengan meminta Manila mengganti wasit di pertandingan final sepak bola Jawa Timur melawan Papua, sepuluh menit sebelum pertandingan beritanya di http://bola.kompas.com/read/2011/01/08/17583695/Manila:.Nurdin.Pernah.Atur.Pertandingan

 

dan semuanya kompak mengatakan setujuuuuu

Benabou mencontohkan beberapa kesalahan pengambilan keputusan yang diambil karena terpengaruh oleh groupthink: meledaknya pesawat ruang angkasa Challenger (sebelum diluncurkan salah satu mekanik merasa ada yang salah, tapi karna kepala kelompok mengatakan pesawat siap luncur, maka pesawat diluncurkan), Invasi AS ke Irak yang ujungnya menghukum mati Saddam Hussein (Keputusan diambil mengabaikan protes negara-negara lain dan warga negaranya sendiri, mengabaikan fakta dan praduga tidak bersalah tiadanya senjata pemusnah masal di irak *sampai sekarang senjatanya nggak ketemu*. dan karena groupthink, sekutu-sekutu AS ikut mengirimkan tentara), dan juga krisis subprime mortgage di AS yang imbasnya membuat AS harus melakukan Bailout ratusan milyar dollar AS.

Ada 8 indikasi grupthink menurut Janis, mari kita kaitkan dengan yang terjadi pada PSSI vs LPI

1.  simptom kekebalan diri (illusion of invulnerability), dimana pada situasi ini sebuah kelompok akan memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi dengan keputusan yang diambil dan kemampuan yang mereka miliki. Mereka memandang kelompok mereka yang sangat unggul dan tidak pernah kalah dalam segala hal. Dengan sumberdaya dan legalitas yang dimilikinya, PSSI memiliki percaya diri tinggi sebagai lembaga yang supremasinya lebih unggul dari kelompok manapun. Dari segi dana, kualitas, dukungan FIFA dan lainnya, PSSI merasa tidak akan pernah kalah dalam segala hal.

2. Simptom yakin pada atribut moral dalam kelompok (Belief in Inherent Morality of the Group). Dalam bayang-bayang groupthink, anggota kelompok secara otomatis mengasumsikan kebenaran dari masalah mereka. Kata Miing, anggota komisi X DPR RI: “Menurut saya, penyakit ada di Pengda PSSI. Mereka harus sadar mengenai semakin buruknya prestasi timnas Indonesia. Sudah tujuh tahun Nurdin memimpin PSSI, tetapi tidak ada prestasi,” ungkap Miing. Sampai tanggal blog ini dibuat sepertinya dalam tubuh PSSI tidak ada gejolak. Pengda juga kompak aja membenarkan tindakan ketuanya.

3. Rasionalisasi Kolektif (Collective Rationalization). Rasionalisasi kolektif mendukung sebuah mindset “hear no evil, see no evil, speak no evil”. Contohnya adalah pendapat I G  Manila di wawancara kompas “Dia (Nurdin Halid) enggak bisa berkaca diri. Mungkin di rumah dia enggak ada cermin. Orang sudah bilang dia gagal, dia bilang tidak. Disuruh mundur, dia enggak mau. Satu-satunya jalan yaitu revolusi, harus segera dimulai,” ungkap Manila, Senin (10/1/2011), saat mendatangi kantor KPK bersama Indonesia Corruption Watch (ICW), Jakarta.

4. Membuat stereotype pada kelompok luar. Sterotype ini membuat anggota kelompok yang terpengaruh oleh groupthink terkesan merendahkan semua yang di luar kelompok. PSSI memang tidak mengakui LPI sebagai kompetisi resmi. LPI dianggap tidak pantas dan tidak bisa menyelenggarakan kompetisi yang sama. Namun induk sepak bola tertinggi di Indonesia tersebut juga tidak bisa melarang kompetisi yang dibentuk oleh Arifin Panigoro tersebut bergulir karena penyelenggaraan LPI dinaungi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). PSSI menyetereotype-kan semua yang telibat dalam LPI adalah ilegal.

 

LPInya pak arifin panigoro

5. Simptom menyensor diri sendiri. Orang yang terpengaruh groupthink menyensor informasi-informasi yang perlu mereka ketahui saja dan yang mereka inginkan saja. Meski sudah ada kritik dari berbagai pihak, namun PSSI sepertinya mempunyai penyaring untuk tidak mempertimbangkan apapun yang tidak sesuai dengan pendapat mereka.

6. Ilusi Persetujuan dari semua anggota (Illusion of Unanimity). Para anggota groupthink lain terbelit dalam ilusi bahwa apa yang mereka lakukan disetujui oleh anggota kelompok lainnya. PSSI memiliki ilusi bahwa yang mereka lakukan akan mendapat dukungan dari anggota FIFA lainnya. Dan Nurdin berilusi bahwa yang dia lakukan akan mendapat dukungan dari partai yang didukungnya. Wakil Ketua DPR Pramono Anung mengecam pernyataan Ketua PSSI Nurdin Halid yang menyebutkan bahwa prestasi tim nasional Indonesia merupakan hasil campur tangan Golkar.

7. Tekanan Langsung pada penentang (Direct Pressure on Dissenters). Umumnya anggota kelompok melakukan tekanan frontal secara langsung pada kelompok atau orang lain yang menentang mereka. PSSI sempat mengancam para pemain, wasit, atau hakim garis jika ikut LPI akan dicoret dari timnas. Dan bahkan pemain yang belum ikut klub di PSSI tidak akan bisa masuk skuad timnas yang akan disiapkan untuk kompetisi di tingkat asia seperti Sea Games, Asian Games atau bahkan tingkat dunia.

8. Melindungi Pikiran Sendiri (Self-Appointed Mindguard-susah terjemahnya). Umumnya pimpinan kelompok dan anggota kelompok lainnya memprotek pikiran mereka dari ide-ide yang menyulitkan mereka maupun kelompok. I GK Manila bilang “Kalau ada ide bagus yang seharusnya meringankan PSSI, tapi PSSI mengangap bakal menjatuhkan PSSI. Jadi kemungkinan apakah ini ada semacam ancaman hilangnya “periuk nasi?” seperti yang telah diperkirakan banyak orang?”

Dengan indikasi diatas, PSSI terlilit dalam groupthink. Kalo menurut Benabou, ada penangkal groupthink atau kebalikan groupthink, yaitu group morale. Tapi kalo moralnya sudah terbelit oleh groupthink, apa nggak sama aja?

Dan jangan salah, dalam kelompok sekecil geng 5 orang, groupthink sangat sangat sangat mungkin terjadi 🙂

Source:

Benabou, R. (2008). Groupthink:Collective Delusions in Organizations and Markets. Princeton University , 1-49

Janis, I. (2006). Groupthink. In E. Griffin, a First Look At Communication Theory. McGraw-Hill.

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/bicara_fakta/2011/01/05/19/PSSI-vs-LPI-Adakah-Ancaman-Hilangnya-Periuk-Nasi

http://bola.kompas.com/read/2011/01/14/14341033/Siapkan.Hukum..LPI.Jalan.Terus

http://bola.kompas.com/read/2011/01/19/11522455/Pramono:.Nurdin.Halid.Keblinger

http://bola.kompas.com/read/2011/01/10/15052978/Manila:.Nurdin..quot.Ndableg.quot…PSSI.Harus.Direvolusi

http://bola.kompas.com/read/2011/01/15/04230959/Jangan.Pilih.Nurdin.Halid.Lagi.

don’t judge the book from it’s cover

Copy-an dari blog lama pas masih jadi reporter dulu, di post kembali dengan alasan biar blognya cepet penuh haghaghag

Don’t judge the books from its cover
Kata siapa?

Kalo dalam ilmu komunikasi dimana semua tanda bisa disemiotikkan, dimana semua atribut adalah sekaligus lambang, kayaknya kok agak susah ya nggak ngejudge orang dari covernya, walo aku sendiri nggak pernah ngejudge orang dari covernya tapi justru sering dijudge karena penampilanku sendiri.

Jujur deh, nggak ada lho manusia di dunia ini yang nggak ngeliat orang dari penampilannya dulu. Nggak mungkin orang nggak ngeliat orang lain dari penampilannya. Karena uda jelas!
dengan ngeliat atribut dan penampilan seseorang, kita bisa menempatkan diri biar sejajar atau kalo nggak empati ya simpati lah sama tu orang. Yea nggak mungkin aja kan kita ngomongin tentang dewi persik+saiful jamil sama orang yang baru aja kita temuin 5 menit lalu padahal dandanan orang itu: celana pipa ketat, kaos item belel ketat bladus hampir bolong, piercing dimana2, tato all over body, dan rambut merah ijo kuning di mohawk, muka ngajak berantem (walo aslinya ternyata ni orang ngefans abis ama saiful jamil misalnya).

Jaman kuliah aja juga gitu. Nggak tau ya, kalo yang lain gimana, tapi kalo aku, pas lagi bimbingan skripsi smpe berani pake sandal jepit, celana bolong pas di dengkul..ih boro2 dilirik, uda sukur skripsi nggak disobek2.

kalo mo hidup di masyarakat umum emang susah siy untuk nggk meduliin penampilan, kecuali kalo kita emang cuek2 banget. Atau emang sengaja make baju ato atribut aneh2 buat mengekspresikan diri. Faktanya, orang2 yg sengaja dandan aneh buat bukti eksistensinya pasti lebih suka di judge dari covernya, walo mereka pasti ngomel2 kalo orang2 salah ngejudge. Dandan ala harajuku misalnya. Dalam hati dia uda ngerasa modis banget, tapi kalo yang nggak tau kan..ih ya ampun mbaknya norak banget, nggak malu ya dandan kayak ondel2..

Taken from http://www.lolasurbanvintage.com/blog. hanya dan hanya cocok dipake di jepang dan acara cosplay.tapi ada teman saya yang nekat memakai di kehidupan sehari-hari. untung putih dan cantek juga cuwek bin Pe-De. jika tidak punya salah satu dari kriteria tersebut, mending reconsider lagi deh.

Ngeliat dari cover itu bukan berarti penampilan fisik doang lho. Bukan berarti merek baju apa yang kita pake, parfumnya harganya berapa,potongan rambutnya gimana dll (walo faktor2 ini biasanya yang jadi main things when we judge someone else).
Cover itu bisa dari attitude-nya, cara pandang matanya, ke-PD-anya, cara sosialisasinya dll.

Makanya kadang suka kasihan gitu sama orang2 yang suka diremehin gara2 penampilannya ngegembel padahal sebenarnya dia itu bukan gembel sama sekali, dan dia bukan berniat tampil gembel untuk mengekspresikan diri, dia hanya nggak tau bagaimana dandan biar nggak keliatan gembel karena dari sononya mukanya emang gembel.

Kadang kasihan juga sama orang yang misalnya: mukanya gembel tapi ngotot banget pengen tampil bling2..
walhasil malah keliatan maksa dan mengenaskan. Nggak tega siy ngasih contohnya, tapi gpp juga kok. Kalo untuk yang ini aku mendukungnya. Asal nggak gnggu orang lain aja nggak masalah. Soalnya kadang2 ada orang yang asal dirinya nyaman nggak masalah, padahal orang lain yang liat udah silau dan gatel banget pengen komentar misalnya. Yea asal nggak kelewatan siy it’s Okey. Go for it!!!
basicnya aku ngedukung semua orang aneh di dunia ini.

Back to the topic..
Emang siy kadang aku dandannya ngegembel walo muka (semoga aja) nggak gembel. Tapi kemaren pas aku lagi dikantor. Tiba2 temenku bilang kalo aku dapet salam dari tukang burjo (aku uda beberapa kali beli di t4 ni orang dan emang tukang burjonya rada kecentilan). Kata tukang burjonya gini niy..
Tukang burjo: Mbak2 temennya yang cakep itu mana ( maap..tp yg dia maksud adalah aku lho he2)
Temenku: Oh, dia masi di kantor mas
Tukang burjo: emang mbak2 ini pada kerja dimana siy, sales ya? sales apa?
Temenku: dengan sedikit ngakak dan rada dongkol juga dia menjelaskan pekerjaan kami sebagai reporter yang (harusnya) mulia itu..Begonya lagi, tukang burjonya nggak tau apa itu reporter.
Eh pas besoknya ke tempat itu lagi, pas kita malem2 beli burjo si tukang burjo malah bilang emang di toko mana sih kok sampe malem?buset deh!

Yea, secara kalo aku berangkat ke kantor pake tas ransel, trus ngepit tas kertas di pundak kanan, plus sandal jepitan..yah wajar lah dikira sales he2.

Katanya siy, wartawan ekonomi itu modis2,wah2..emang bener siy. Kalo katanya wartawan identik dengan backpack, kumel dan nggak mandi, salah banget itu.
Untung belakangan aku sadar kalo mo wwncr narasumber yg mayoritas emiten, dan pengusaha dll itu nggak boleh ngegembel.
Karena dulu pas magang juga pernah wwncr orng penting dan aku dikira masih SMP!!!padahal udah semester 10!!
Udah gitu, pas bimbingan skripsi, dan pendadaran, dengan wajah smiley plus hobi ketawaku, aku dikira nggak serius dan ngeremehin dosen coba!!!sumpah pak bukan itu maksud saya..

oh ya, bukannya aku suka ngejudge penampilan orang lain tapi aku pernah sekali salah menginterpretasikan seseorang. Pas itu di kantor aku ma temenku laper banget, dia bilang nitip OB aja.
Eh ada mas2 berdiri di situ, langsung aja aku bilang ma temenku, eh itu ada OB.
Pas aja aku mo manggil, temenku langsung buru2 bilang jangan!!!
ada apa gerangan..ternyata mas2 yg mukanya mirip OB dan dandan juga nggak jauh beda dari OB itu adalah: Fotografer di kantor kita.Profesional lagi..Ya allah..ya allah..
untung banget belom tereak: Mas titip pecel ayam 1 ama tempe 2 dibungkus ya!!
duh bisa kasus kalo sampe kejadian. Tapi bisa jadi kejadian sebaliknya terjadi, mas itu yang belom kenal aku juga ngira aku sejenis OB he2. Untung di kantor cuma ada OB gak ada OG he2,,

Tapi sebaliknya, aku ngeliat pembantunya ibu kost-ku dulu..
ya ampun cantik lho..masih 17 tahun, baru lulus SMP,mana putih, seger pula, modis, khas orang bogor..pokoknya anak gaul masa kini deh..
kalo orang2 ngeliat pasti uda dikira anaknya bu kost deh secara bu kost kaya abis..dibanding dengan anak2 kostnya yang kumel2 abis he2..
jauh deh…
Kalo dari fisik si nggak ketahuan kalo dia itu pembantu, baru ketahuan kalo udah ngomong.
Jadi luar itu penting, tapi dalem juga lebih penting. Tapi ya gitu,kalo luarnya aja udah bikin males, gimana orang mo ngenal ampe ke dalem2..ya toh..
Tapi ya gitu deh, aku tau penampilan itu penting, tapi all i can do ya sebatas yang aku mampu. Yea minimal mandi itu wajib lah..wangi itu harus lah..nyisir itu penting lah..
Tapi sandal jepit…duh susah deh kayaknya..
pengennya just be my self, tapi kok orang2 suka salah persepsi..
Lagian kalo hidup seenak perutnya sendiri kok ya kadang nggak enak juga, secara kita hidup di masyarakat umum..tapi kalo diatur ini itu juga gerah…

ah susah memang jadi manusia..

Media Baru Baru Media

Gyahahah sudah hampir setahun membeli buku Terry Flew dan sering mempromosikannya bahwa buku ini bagus, juga pernah make untuk referensi UAS, baru kali ini bisa ngebaca ni buku.  Oke2 sebelom nanti aku tulis tentang yang laen2 di buku ini, ada perlunya juga membahas yang paling basic banget dari buku ini yaitu new media a.k.a media baru. Di bukunya Terry ini banyak banget membahas tentang media baru dengan pendapat-pendapat dan pernyataan yang cukup baru dan lain daripada di buku2 lain (gaya banget..kayak pernah baca buku laen aj hi2)

taken from amazon.co.uk. buku terry yang asli. yang punya saya yang versi poto kopi he2

Kata Terry yang meminjam pernyataan dari Lierouw dan Livingstone (2007), pendekatan apapun mengenai media baru perlu mempertimbangkan 3 elemen yaitu:
1. Artefak atau alat yang memungkinkan dan memperpanjang kemampuan kita untuk berkomunikasi
2. Aktifitas dan praktek komunikasi yang melibatkan kita untuk mengembangkan dan menggunakan alat ini
3. Susunan sosial dan organisasi yang terbentuk disekitar alat ini dan penggunaannya

Susah ya..yang jelas, media baru bisa juga dikonsepkan sebagai media digital. Media digital mencakup bantuk dari konten media yang mengkombinasikan dan mengintegrasikan data, teks, suara dan segala jenis gambar; kemudian tersimpan dalam format digital;  dan secara terus meningkat, didistribusikan melalui jaringanjaringan misalnya yang berbasis kabel fiber optik brodben (bagus juga ya untuk nama ben, kok belom ada yg make di indo he3), satelit dan sistrem transimisi gelombang mikro (mikrowef).

Menurut Terry, ide ‘new media’ itu menangkap kedua faktor:  perkembangan dari bentuk unik media digital, dan remaking dari (lebih banyak) bentuk media tradisional untuk diadopi dan diadaptasi dalam teknologi media baru. Dia sendiri mengatakan bahwa sebenarnya memang sulit menggambarkan garis batas antara ‘new’ dan ‘old’ media.

Isi dari media baru seperti yang ada di situs we we we seringkali terbentuk — dari teks cetak, foto film, rekaman musik,tv — dan diproduksi kembali dalam format digital, ketimbang melibatkan generasi dari ‘new content’ ato isi yang baru.  Mungkin intinya..ketimbang isinya yg baru, media baru seperti situs we we we itu cuma memformat digitalkan konten media lama.  Jadi bentuk konten baru itu nggak ada. Sehingga Bolter dan Grusin pun mendiskripsikan ini sebagai ‘Perkembangan pesat dari media digital baru, dan hampir bisa dikatakan juga sebagai respon pesat dari media tradisional’. Maksudnya ada dualitas makna di sini (2005).

Karna internet dan lainn2 sudah sering dibahas, mari kita skip internet dan sejarahnya ya…

Terry bilang, kunci dari memahami media baru itu:

1. Digitisasi dan konvergensi.
Digitisasi sendiri maksudnya: berbagai-bagai (pak alwi banget he2) bentuk informasi termasuk teks,suara (sound) , gambar, dan suara (voice) itu dikodekan dalam kode biner tunggal 0-1.  Informasi digital ada dalam satu-satunya dua bentuk ini –0 ato 1— yang disebut bits (singkatan dari ‘binary  digits’–makjaaannn..ini to kepanjangannya, baru tau aku he3),  dan rangkaian dari banyak 0 dan 1 (disebut bytes) yang membentuk informasi.

Perkembangan utama yang muncul berbarengan dan cukup berasosiasi dengan digitisasi ini adalah konvergensi. Yang dalam hal ini berarti menggabungkan bersama sektor komputasi, telekomunikasi dan informasi.

Konvergensi bisa dipahami oleh yang terjadi dalam 3 level. Yang pertama itu konvergensi fungsional. Yaitu ketika informasi dan isi media secara meningkat diproses melalui sistem teknologi informasi berbasis komputer, dan dibawa ke hadapan penggunanya melewati jaringan komunikasi brodben. Kedua, konvergensi industri. Konvergensi industri telah melibatkan beberapa pengambilalihan, merjer, dan kemitraan stategis yang menguatkan hubungan antara sektor komputasi dan industri TI, perusahaan  telekomunikasi dan media. Dan terakhir konvergensi produk dan jasa adalah bentuk dari isi media dan informasi yang mengambil keuntungan dari infrastruktur brodben berjaringan. Kemampuan ini disediakan oleh digitisasi dan ksempatan untuk interaktifitas dan user customisation jasa.

2. Interaktifitas
Konvergensi dan digitisi secara kuat terhubung pada interaktifitas. Bentuk media interaktif adalah bentuk yang
memberikan pilihan pada penggunanya dalam sistem informasi. Baik dalam hal pilihan untuk mengakses pada sumber informasi maupun mengontrol hasil dari penggunaan sistem tersebut dan membuat pilihan tersebut.

Tapi di buku ini, Terry mengemukakan beberapa pendapat dari ahli komunikasi yang lainnya bahwa tidak semua media baru itu interaktif. Intinya, interaktif itu kemutlakannya tidak seperti digitisasi dan konvergensi di media baru.

Katanya, penting untuk membagi interaktifitas dalam dua elemen yaitu interconectivity dan interoperability. Yang pertama mengacu pada kapasitas untuk secara mudah terhubung interaksi melewati jaringan yang berbeda. Sedang yang kedua itu mengacu pada kapasitas untuk mengakses bentuk informasi dan isi media yang tersedia dengan menggunakan sistem operasi yang berbeda.

3. Network and Networking (Jaringan dan Berjaringan)
Perkembangan besar lainnya yang berasosiasi dengan teknologi media adalah networking, atau kapasitas untuk membawa sejumlah besar informasi ke beberapa titik yang terinterkoneksi. Konsep dari networking yang berbasis pada internet ini telah dikleim sbg dasar pernyataan bahwa fase saat ini menandai munculnya ‘new economy’, atau yang disebut oleh Manuel Castells sebagai network society.

Begitu sih intinya media baru ini. Kata Terry, ini penting juga dalam membentuk penggunaan teknologi mobile dan nir kabel di masa depan..Hmmmm…bagus emang ni buku he2..

Terry Flew. New Media: An Introduction (2nd edition). Oxford University Press. Australia. 2005

Moore’s Law

Berawal dari rasa penasaran karna di buku2 komunikasi sering banget disebut-sebut kata2 moore’s law, ditambah lagi semester lalu pak Prof sering menyebut2 kata ini dikala sedang mengantuk di kelas..akhirnya moore’s law menang! Yes men, u win..baeklah mari kita bahas tentang apa sih dirimu. Kita cari, seberapa penting sekalinya untuk ilmu komunikasi

Secara general sekali, Moore’s law adalah dalil yang dikemukakan oleh Gordon Moore, co-foundernya intel yang pada taon 1965 memprediksikan integrated circuits di masa depan. Dia dianggap sebagai seseorang  visionary karna di jaman yang komputer itu masih lebih gede dari rak-rak barang di carrefour yang berjajar2 itu, si moore ini sudah memprediksikan kalo jumlah transistor dalam sebuah chip akan berlipat dua setiap dua tahun sekali. Nah langkah ini lah yang tetap dipegang oleh intel selama 40 tahun terakhir ini.

Begini nih kata-katanya yang ada di Electronics Magazine, April 1965:

The complexity for minimum component costs has increased at a rate of roughly a factor of two per year … Certainly over the short term this rate can be expected to continue, if not to increase. Over the longer term, the rate of increase is a bit more uncertain, although there is no reason to believe it will ot remain nearly constant for at least 10 years. That means by 1975, the number of components per integrated circuit for minimum cost will be 65,000. I believe that such a large circuit can be built on a single wafer.

Transistor Count and Moore's Law - 2008
Transistor Count and Moore’s Law – 2008

Prediksi ini secara langsung dan tidak langsung menjadi sebab munculnya prinsip-prinsip yang mendorong industri semi konduktor (iiihhhh…nggak komunikasi banget ya). Para eknologis ditantang untuk memunculkan terobosan-terobosan tiap taun untuk memastikan memenuhi moore’s law tadi. Ketika direview  lagi taon 1995, Moore menyimpulkan kalo prediksinya itu masih akan tetap berjalan dalam waktu cukup lama (Pas itu, mikroprosesor intel pentium terdiri dari hampir 5 juta transistor)

Kata Jon Stokes di artikelnya, ada tiga faktor yang menarik dari moore’s law.
Pertama, dengan mempelajari teori aslinya  akan memberikan kita kesempatan untuk mempelajari tentang faktor utama yang membentuk industri semikonduktor (skip, this is not communication part), dan tentunya bisa membentuk apa yang bisa kita lakukan dengan komputer dan kehidupan modern. Lalu kita akan bisa melihat bagaimana penelitian moore’s ini bermetamofosis dalam konstruksi media saat ini yaitu “Moore’s Law” sebagai pernyataan kinerja.
Karna, formula moore’s ini bukan melulu hanya tentang meningkatkan tenaga komputer, dan juga lebih dari sekedar
menyusutkan ukuran.

Kedua, adalah menyangkut efek moore’s law ini. Pada akhirnya kita akan melihat betapa moore’s law bertanggung jawab pada jargon “Smaller, cheaper, more reliable and everywhere” untuk menggantikan “bigger, faster and more power hungry.”

Yang terakhir, adalah melihat bagaimana masa depan dalil ini.

Di salah satu wawancara taon 2005, Moore sendiri bilang kalo Moore’s Law is dead. “It can’t continue forever. The nature of exponentials is that you push them out and eventually disaster happens, bla bla bla dan beberapa alasan lainnya.
Yah, mo mati mo enggak, yang jelas dunia komputer dan teknologi media dan komunikasi nggak akan kayak sekarang ini tanpa moore’s law. Satu yang bagus dari mempelajari tentang moore’s law ini adalmenurutku adalah betapa pentingnya memikirkan trend yang akan terjadi beberapa tahun ke depan. Yah si Gordon Moore — yang jebolan University of California at Berkeley dan California Institute of Technology (no wonder ya….)— ini paling enggak membuktikan betapa pentingnya memprediksikan apa yang akan terjadi di masa depan.  Sama ama McLuhan dengan bukunya Understanding media: The extensions of man.

Hmmmm…kayaknya bener juga omongan pak Prof. Ngapain ngubek-ubek dan terbelit dgn ilmu masa lalu (dalam konteks media..)


Classic.Ars: Understanding Moore’s Law, Jon Stokes. http://arstechnica.com/hardware/news/2008/09/moore.ars

“Moore’s Law” Predicts the Future of Integrated Circuits” Computer History Museum. 2007. http://www.computerhistory.org/semiconductor/timeline/1965-Moore.html.

Moore’s Law is dead, says Gordon Moore. By Manek Dubash, Techworld. 13 April 2005. http://www.techworld.com/opsys/news/index.cfm?NewsID=3477

Why Study New Technologies?

Why??Why???????Why should we?
Tiada hari tanpa siksaan teknologi komunikasi *sighh*.

Dari bermacam jenis simpangan, sempalan, pretelan, dan an an lainnya dari ilmu komunikasi, teknologi komunikasilah yang paling saya tidak sukai. Mumet. Teknis banget. Dan yang jelas terlalu masuk ke ranah teknologi informasi a.k.a teknik informatika.

Semua dibahas mulai dari Frekuensi sampe segalanya yang berhubungan dengan iternet dan media baru..

Tapi karna semester lalu Prof Alwi begitu getolnya membahas masalah new teknology yang mendasari teknologi komunikasi, dan  karena mas dosen yang itu juga terus2an menyiksa dengan semua hal yang berbau teknologi komunikasi. Juga beberapa pembicaraan yang terdengar beberapa waktu lalu kalo banyak dari area-area teknologi informasi yang sebenernya merupakan bagian dari ilmu komunikasi.

Katanya sih anak komunikasi tidak seharusnya cuma jadi CS ato paling mentok corcomm di perusahaan telekomunikasi. Paling nggak bisa masuk ke bagian2 teknisnya, dan kalo bisa justru menggagas konsep2 yang bla..bla..bla… apa lagi gitu lupa terusannya, intinya seperti itu. Makanya teknologi  itu penting dipelajari.

taken from mynameisnoe.wordpress.com..kata pak dosen, lulusan komunikasi nggak boleh mentok jadi begini dowangg

Ternyata omongan mereka itu ada justifikasinya (ya iya lah, Mosok Prof PhD, sama MA ngomong tak berdasar. Secara tiap pertemuan yg dibahas, saya ini udah tua tapi masih berusaha terus mencari ilmu2 baru, saya baca tiap hari 10 buku, resume sudah biasa ya ya ya)..

Kata si Grant, salah satu yang penting dalam mempelajari media adalah karena teknologi baru itu sepertinya akan mendapat semakin banyak pehatian dibanding yang tradisional, sehingga teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri (ya ya kita bicarakan Arnold Pacey nanti ok) .

Seperti yang kita semua tau, dan itu juga dikatakan oleh Grant, alasan mempelajari teknologi baru adalah karena ia dinamis dan ber-evolusi lebih cepat. Sehingga menimbulkan potensi besar untuk merubah bagian sistem media.

taken from http://www.heroturko.org.Nih bukunya si pak grant.Dan lagi-lagi yang saya punya adalah yang versi copy *guilty*

Beberapa alasan lain belajar teknologi baru mungkin karena masalah keuangan. Banyak orang yang berusaha meraup uang dari teknologi baru—tapi banyak juga uang yang ilang karna teknologi baru. Kata Grant, kalo kita pengen merencanakan karir di media, kita kemungkinan akan dengan mudah tertarik sama pengetahuan yang bikin kita ngerti mengenai bagaimana media berubah dan ber-evolusi, dan bagaimana perubahan itu akan mempengaruhi karir kita. (Mungkin nantinya semua media hanya butuh satu reporter untuk liputan, report, take picture, editing, sampe proses sebelum publishing. Jadi Redaktur mah satu aja nggak usah banyak2 heheww)

Terus, satu hal lagi yang penting. Kemungkinan mempelajari teknologi baru akan berguna ketika kita pengen belajar dari kegagalan teknologi komunikasi baru yg pernah terjadi. Sehingga kita bisa menghindari kegagalan di karir kita, investasi kita dll. Beberapa fakta –misal pas radio stereo AM dikenalkan tahun 80’an– menunjukkan bahwa mayorita s teknologi baru yg dikenalkan itu nggak terlalu sukses di pasar. Beberapa gagal karna teknologi baru itu terlalu jauh meninggalkan pasar (misalnya Qube, sistem tv kabel interaktif pertama yg dikenalin thn 1970an).

Lainnya gagal karna timing yang jelek aja, ato karna marketing yang agresif dari kompetitor yang mengalahkan teknologi baru, walo teknologi yang dimiliki kompetitor itu inferior.

Dan yang terakhir kenapa mempelajari teknologi baru itu penting…yaitu untuk mengidentifikasi pola dari adopsi, dampak, kesempatan ekonomis, dan kompetisi sehingga kita bisa bersiap untuk memahami, menggunakan dan berkompetisi dengan generasi selanjutnya dari media baru (cih..klasik..ha2).

Yah, ya. Itu mah kata2nya pak Prof, mas dosen dan tentunya kata August E Grant.  Percaya ato nggak sih terserah.
Tapi kalo aku pada dasarnya emang belom tergerak untuk menyukai atau mendalami teknologi komunikasi hehewww…

August E Grant PhD., Communication Technology Update and Fundamentals (11th edition), Focal Press. United States Of America. 2008 (Halaman 7)