seandainya saya punya unsur Y di kromosom

seandainya saya dilahirkan dengan kromosom XY saya akan jadi lelaki. kalau jadi lelaki saya akan bebas menentukan langkah dan hidup saya sendiri.

seandainya saya lelaki saya sudah pasti bisa memperjuangkan obsesi-obsesi yang sangat lelaki. beli motor diusia 25 menikah di usia 27. istri saya harus cantik dan pintar. punya mobil diusia 35 tahun. melunasi cicilan rumah di usia 40 tahun

kalau saja saya lelaki. saya tidak akan menyesal punya pendidikan  tinggi dan ingin lebih tinggi lagi tanpa merasa takut. sebagai lelaki saya tidak akan perlu takut mempunyai pikiran bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin luas pengalaman dan semakin tinggi karir, wawasan saya akan jadi semakin terbuka, semakin penuntut, semakin mengerti metode berpikir abduksi,induksi atau deduksi, semakin tidak bisa ditipu dan semakin berani mengemukakan pendapat. dan tentunya saya tidak akan takut menjadi salah satu parasit lajang. 

sebagai lelaki, perempuan jatuh cinta kepada saya. mudah saja memerangkap perempuan. beri perhatian,jual mahal sedikit,lalu tarik ulur. semua ada tak-tik dan strateginya. tidak sulit . saya butuh perempuan pintar,tapi tidak perlu bergelar Ph.D. cukup yang menurut saya cantik dan seksi,bisa diajak ngobrol,nyambung dan lucu.

Perempuan berpendidikan tinggi atau banyak pengalaman dan berpangkat tinggi terlalu banyak bicara dan tidak bisa diatur. mereka lancang dan banyak maunya.mereka menakutkan, apalagi yang punya banyak sahabat,teman,fans,penggemar,atau bahkan punya stalker. itu sedikit membanggakan tapi lebih banyak mengintimidasi. mereka sibuk dengan dirinya. jadi mana sempat mengurus saya.

kalau saja saya lelaki tidak ada lelaki yang melihat saya lurus kearah dada saya tepat beberapa detik setelah berkenalan. 

kalau saya lelaki,tentu lelaki tidak berminat mencolek  saya disekitar pinggang,atau sering-sering memuji dengan cara menepukkan tangan ke bahu atau ke punggung saya.

saya juga tidak perlu menghabiskan uang jutaan untuk produk kecantikan atau pelangsing dan pemutih kulit. 

kalau saya lelaki,suara saya tentu lebih terdengar. di rapat atau di musyawarah apapun tanpa terkesan histeris,emosional dan mencolok. di rapat lelaki menjerit,berteriak persetan di depan muka pimpinan dan menggebrak meja. itu tidak emosional dan histeris. itu reflek.

dengan logika,saya bisa mengambil keputusan tanpa gangguan emosi. saya tidak akan dihinggapi rasa tidak pede,rasa sensitif dan tersinggung berlebihan. saya akan konsentrasi bekerja tanpa dibayangi wajah anak-anak saya dan khawatir suami selingkuh.

logika membuat saya tidak larut dalam satu perkara dan membuat saya down. saya bisa mencapai puncak karir saya tanpa gangguan. karna saya yang menentukan semuanya. saya menetukan istri yang saya pilih, pekerjaan yang saya mau, dan semuanya saya yang bertanggung jawab mengendalikan.

ah ya seandainya..

tapi saya tidak memiliki unsur Y dalam kromosom.

ungkapan what man can do woman can do better sepertinya hanya delusi para feminis garis keras. mungkin harusnya what man can do woman (maybe) can do better. tapi nggak tau juga ding.

saya sangat menikmati keistimewaan perempuan kok.

saya hanya galau kalau melihat banyaknya masalah yang dihadapi perempuan. ambiguitas perempuan yang ingin kesetaraan gender tapi bediri di busway atau kereta ngeluh. atau ambiguitas perempuan yang ingin ditinggikan martabatnya tapi sengaja memakai baju berbelahan dada rendah dan rok mini dibelah tengah sementara perempuan-perempuan lain lebih menyukai intelektualitas dan mulai menyadari inner beauty.

ah nggak tau. saya bukan expert dibidang itu. mungkin kalo dihubungkan dengan konstruksi media, baru bisa saya bongkar tapi akan menjadi sangat komunikasi, sangat panjang dan membosankan.


nggak logis?

kan kata laki-laki perempuan memang gak logis dan nggak perlu logis 🙂

Advertisements

being analog for a while

Lama banget gak update blog.
Belakangan ini saya sangat menikmati ‘me-time’ versi analog. Saya nggak bukak FB berhari-hari-hari kecuali buwat maen restaurant city doang. nggak bukak blog sama sekali dan nggak bukak imel haghag.

walaupun dosen saya dulu sudah menanamkan pentingnya information comunication technology (ICT), dan betapa orang komunikasi harus menguasai teknologi media, saya tetep aja nyaman menjadi manusia analog ahihihihik. yah, saya masih buka kompas.com dan detik.com sih, biar nggak ketinggalan gosip. tapi hari-hari biasa yang saya lakukan adalah ini:

dua minggu ini saya membaca dan memotongi berita-berita menarik di kompas. analog banget. lebih gampang klik and save dari portalnya. but this is fun. i collect almost 50 articles 🙂

pada dasarnya saya memang cenderung ke analog. jam tangan aja saya pilih jam tangan analog punya bapak saya pas beliau kuliah daripada jam digital yang underwater-bisanyala digelap-gelapan-whatsoever. masalahnya jam digital dengan presisi waktu yang akurat hingga ke detik, anaknya detik dan cucunya detik itu menyiksa saya haghag. toh saya bukan timer di terminal hawhaw. ini kan masalah selera aja. kalo dikasih jam digial juga saya nggak nolak 🙂

my beloved analog watch. awet n klasik boooo’

trus untuk pembukuan keuangan, saya lebih suka pake buku tulis biasa yang saya garisin sendiri. pacar saya bilang mending pake microsoft exel aja. tapi saya mikir kalo exel gak bisa dicoret2 pake pensil warna, lah nanti pensil warna color pep’s saya nggak kepake dong. trus harus buka-buka netbook lagi. ribet. nggak bisa dibolak-balik dan dilipet sambil geleng-geleng kepala atau senyum-senyum haghag. alasan yang sama kenapa saya mending beli buku berkilo-kilo dan mahal ketimbang e-book yang bisa donlot gratis ato copy printscreen di google-book.

saya masih memakai cara konvensional. membagi fix cost dan variable cost dalam buku catatan dan mewarnai yang sekiranya shocking 😀

Hagz. bukannya digital nggak bagus. mp3 lebih awet daripada kaset. atm adalah salah satu penemuan brilian sepanjang masa. kamera pocket digital lebih praktis dibanding kamera SLR analog yang manual banget. gps lebih oke daripada kita gelar peta dijalanan buat nemuin lokasi tertentu. Biar kata marshall mcLuhan, technology is extension of man (1964) dan digitalisasi adalah extention of man juga, tapi kalo masih nyaman analog ya gak masalah kan?.sama seperti alasan drew barrymore nggak punya twitter *mid 2010 nggak tau sekarang dah punya belom*, katanya: twitter?i don’t think that we are that far, alias saya merasa jarak kita belum sejauh itu untuk dikoneksikan dengan twitter. kalo alasan saya nggak aktif twitter ya karna selain saya analog ya karna emang belom paham aja makenya, jadi nggak menikmati, trus nggak ada apikasi game-online-nya akakak.

ah. terserah saja. mungkin saya terlalu muak dan masih trauma dengan ratusan e-journal tentang konvergensi media yang bikin keriting dan belom semua saya baca demi tesis saya *6 bulan berlalu masih bikin emosi*. akhirnya saya harus banting setir ganti judul. makanya saya nggak suka digital haghag. bagaimanapun kalo masih nyaman dengan analog, dan selama tidak berhubungan dengan alat kesehatan dan the survival of human being, biarkan yang digital itu. kalo harganya sudah kebanting. terinjak-injak, turun sampe ke kerak bumi., baru deh dipake hehehe.

i’ve seen it all

Hari ini saya lagi gloomy. gara-gara liat ramalan bintang gemini taun 2011 yang bilang kalo karir para gemini akan stagnan dan up and down disitu situ saja *sigh*
sudah saya coba untuk membangkitkan mood dengan MV 2PM i’ll be back, tapi tetep aja gloomy. akhirnya saya putar lagu-lagu sigur ros sekalian aja yang lebih pas dengan suasana hari yang gloom…yang judulnya samskeyti cocok banget untuk musik pengiring bunuh diri hyahahahahaha

tapi tiba-tiba diantara selipan lagu sigur ros, ada lagu duetnya bjork sama thom yorke yang menyayat hati. judulnya i’ve seen it all. it’s been my favourite since i was in junior highschool. baru paham maknanya pas sekarang-sekarang.

“I’ve Seen It All”

I’ve seen it all, I have seen the trees,
I’ve seen the willow leaves dancing in the breeze
I’ve seen a man killed by his best friend,
And lives that were over before they were spent.
I’ve seen what I was – I know what I’ll be
I’ve seen it all – there is no more to see!

You haven’t seen elephants, kings or Peru!
I’m happy to say I had better to do
What about China? Have you seen the Great Wall?
All walls are great, if the roof doesn’t fall!

And the man you will marry?
The home you will share?
To be honest, I really don’t care…

You’ve never been to Niagara Falls?
I have seen water, its water, that’s all…
The Eiffel Tower, the Empire State?
My pulse was as high on my very first date!
Your grandson’s hand as he plays with your hair?
To be honest, I really don’t care…

I’ve seen it all, I’ve seen the dark
I’ve seen the brightness in one little spark.
I’ve seen what I chose and I’ve seen what I need,
And that is enough, to want more would be greed.
I’ve seen what I was and I know what I’ll be
I’ve seen it all – there is no more to see!

You’ve seen it all and all you have seen
You can always review on your own little screen
The light and the dark, the big and the small
Just keep in mind – you need no more at all
You’ve seen what you were and know what you’ll be
You’ve seen it all – there is no more to see!

bjork n thom yorke dalam i’ve seen it all selalu bikin merindiing. taken from http://www.ratedesi.com

kayaknya lagu ini mengajarkan banyak hal yang bersifat filosofis deh. semacam kosong adalah isi, isi adalah kosong. kalo lagu ini dikorelasikan dengan keinginan saya yang macem-macem, keinginan berkarier yang aneh-aneh sebenarnya cocok. cocok untuk memupus rasa kurang puas dan rasa menuntut pada diri sendiri ingin ini ingin itu.

all walls are great if the roof doesn’t fall..
niagara..i’ve seen water, it’s water that’s all

sama kayak filosofi babe-ku
kenapa orang pada gila sama duit. duit kan cuma kertas yang digambari.
kenapa orang pengen beli mobil bagus dan mahal. dasarnya itu cuma kaleng yang bisa jalan..

i wish if life is just that simple..but than i thinking again..yes, life is just that simple.

sama seperti yang bjork dan thom yorke bilang. kita harus melihat hakekat apa yang kita ingin, apa yang kita punya, apa yang kita lihat ..semua pada dasarnya mempunyai substansi yang sama, hanya kita yang harus pintar memainkan persepsi..

cukupkan apa yang kita punya,
You’ve seen it all and all you have seen
You can always review on your own little screen
The light and the dark, the big and the small

and finally… And that is enough, to want more would be greed…

getting something or i’ll go

itu yang saya pikirkan setelah saya take a snap look to my new book entitled firebelly, dan tadi bertanya kepada seorang senior di tempat kerja, apa yang sudah anda dapat selama 5 tahun bekerja *tentu saja pengalamannya sudah banyak*

saya tidak pernah membayangkan bisa bekerja di tempat yang sama lebih dari 2 tahun. i’m a runner. i run for everything i should catch. i’m also a jumper. i want to jump higher and higher.dan tak lupa, i’m a dreamer. a full time dreamer.

tentu saya bukan sepenuhnya penganut paul arden yang bilang jangan terlalu lama bertahan di satu pekerjaan. tapi saya sependapat dengan quote-nya: ajukan pengunduran diri jika orang-orang selalu menolak ide-ide anda dan apa yang anda tawarkan. If you are good, and you are right to the job, your resignation will not be accepted.

paul arden book’s whatever you think, think the opposite hal 103 *kok tanganku jadi kayak jempol kaki?*

that’s it that’s what i’m gonna do

buku ini saya beli memang setelah saya keluar dari kontan dan memutuskan untuk kuliah s2 .buku ini memberi nuansa gloomy jika anda membelinya tepat diposisi dan waktu yang sama dengan saat saya membeli *efeknya baru terasa lama setelah anda kebanting-banting dan menyesal setengah mati setelah resign, meski bukunya provoke anda untuk resign*

saya merasa banyak benarnya kata-kata di buku ini. salah satunya adalah lebih baik menyesali apa yang telah anda lakukan daripada menyesali apa yang tidak anda lakukan.
saya memang dulu pernah sangat menyesal keluar dari kontan. saya sudah sangat nyaman di sana. rekan kerja menyenangkan, pekerjaan sesuai jurusan, gaji besar. tapi saat ini, saya pasti akan jauh sangat-sangat menyesal jika saya tidak keluar dari sana. i get more than i could imagine i could do by now after resign.

demikian pula saat memutuskan untuk masuk lipi dan meninggalkan semua kesempatan yang sudah di depan mata dan orang-orang yang fully support saya. saya lebih baik menyesal masuk lipi daripada bertahan dalam situasi nyaman yang sudah saya dapat.

sekarang saya masih berada di zona tidak nyaman. saya merasa masih harus beradaptasi banyak dan belajar banyak. tapi kalo saya sudah nyaman, saya pasti berpikir akan kembali pergi. nyaman itu kalo saya sudah nggak ngapa-ngapain, nggak ada kerjaan, kerjanya tidur, dan nggak produktif.

jika sampai dalam jangka 1 tahun ke depan saya di ambon tidak dapat apa-apa, tidak menulis apapun itu artikel, cerita, blog, tidak membuat program, bahasa inggris makin jelek, tidak kunjung menguasai bahasa jepang, nggak apply beasiswa, ide saya tidak diterima, tidak membuat kajian meski saya bukan peneliti, pokoknya tidak menghasilkan progress apa-apa, satu tahun kedepannya pasti saya sudah masuk RSJ karna setres.that’s why geting something or i’ll go.

mungkin orang normal heran apa enaknya jadi kutu loncat kerja sana menclok sini nemplok sana. but if u are an absorber and full time learner, you’ll know. hampir semua orang advertising dan marketing pasti tau. sumur ide dan sumber ilmu yang kering tidak bisa dijadikan tumpuan.

ah semoga saja semangat ini hidup sampai kapanpun.
tuhan tentu tidak akan mengutuk jika rejeki yang diberikannya pada manusia dilepas untuk mengejar yang mungkin lebih sedikit, karena tuhan menciptakan manusaia dan otaknya untuk terus berkembang. kalo enggak, buat apa ada headhunter kan kekekekeke *jangankan kroco, yang head aja masih di hunt*

just like reenee and my dad said, your job is not your career, and money isn’t everything.

hahahahah tentu saja ini cuma omong besar aja. kenyataannya mana saya tau. sapa tau kalo punya suami anak cucu cicit semua berubah
however, that’s the spirit 😀
manny

mikir terus

Saya adalah orang yang tidak bisa berpikiran kosong. Akibatnya, setiap harunya saya harus menyibukkan diri dan memikirkan hal-hal yang berat *kalo nggak ada yg berat ya yang ringan diberat2in*. Karna kalau tidak, saya akan jadi gila. Ketika pikiran kosong saya cenderung untuk memikirkan yang tidak-tidak, mendramatisir pikiran itu dan kemudian membawa saya kepada tendensi untuk menjadi depresi.

Seperti kata buku la tahzan. Pikiran yang kosong adalah tempat yang paling menyenangkan bagi tentara setan. Ketika pikiran kosong setan akan masuk dan merasuki pikiran kita. Sehingga kita memikirkan hal-hal yang buruk dan hal yang tidak-tidak. Menghkawatirkan sesuatu di masa lalu yang buruk dan mencemaskan masa depan yang tidak pasti.

Sementara itu, kata mas halim dalam sebuah status fesbuknya: Ketika merasa khawatir, kita akan mendapatkan banyak skenario yang sangat kreatif dan sering kali gila untuk memperbesar kekhawatirannya.

Untuk mencegah pikiran saya kosong, saya biasanya membaca, mencari makna dan menulis. Itulah mengapa saya sangat menyukai buku spiral dan komunikator serta netbook yang sangat handy. Saya bisa menulis apa saja yang saya mau.

buku spiral terbaru saya. depannya gambar babi pink. saya selalu suka buku spiral 😀 i can write almost everything on it. juga pigmen ink snowman drawing pen permanen. i can write almost everything with it

Indikasi kalau pikiran saya kosong adalah saya tidak sedang mengerjakan sesuatu, tidak ada buku yang bisa dibaca, sedang bosan, dan saya memainkan minigames dari gamehouse berulang kali dengan pikiran kosong. Kalau sudah begini, saya pasti akan memikirkan hal yang tidak-tidak. Tapi setidaknya sekarang saya sudah tau pola saya. Sehingga ketika saya mulai bengong, saya tidak akan membiarkan my maind play trics on me atau tentara setan masuk ke kepala saya. Mending sekarang ngeblog aja. Nulis apapun yang bisa ditulis 🙂 semogaa…..

the reason

capek ih ditanyain orang melulu kenapa pilih kerja di tempat saya kerja

Pada dasarnya tidak ada alasan khusus yang melandasi penjatuhan pilihan saya pada LIPI.Sama seperti orang lain yang nyoba-nyoba jadi pns.Mendaftar dan mengikuti tes di LIPI adalah pertamakalinya saya ikut pendaftaran CPNS yang tiap taunnya diadakan.Sebelom-sebelomnya belum pernah ikut karna begitu lulus S1 langsung keterima di KONTAN.Taun 2009 dengan tekad iseng,akhirnya saya mencoba daftar CPNS dengan mencari yang berkaitan dengan bidang saya dan nyambung sama bidang pacar saya.Akhirnya saya pilih DKP dan LIPI.

Untuk memenuhi obsesi saya yang agak sulit yaitu bisa kerja di BATAN seperti babe,akhirnya saya daftar BAPETEN yg pas itu ada formasinya.Dasar emang mungkin hokinya di LIPI secara sejak kecil udah sering make tas” tulisan LIPI oleh” dari babeh kalo abis ikut seminar di LIPI,akhirnya yang lolos ya di LIPI itu.Pertama,yang DKP gak lolos administrasi karna harus ada lamaran yang ditulis tangan langsung,tapi waktu itu aku nggak nulis tangan haghaghag.Trus yg BAPETEN nggak lolos pas ujian tertulis.

PTAPB BATAN Jogja. di gedung yang ada biru-birunya itu ada ruangan bapak saya. tempat yang saya impikan untuk bekerja sejak kecil. tapi rontok karna jurusan bukan fisika atau kimia

Bagi saya,soal ujian CPNS BAPETEN tahun 2009 itu nggak manusiawi babar blas.susah bener.Kalo dibanding sama soal ujiannya LIPI mungkin 4 kali lebih susah.Singkat cerita, akhirnya masuklah saya ke LIPI dengan pilihan saya yaitu balai konservasi biota laut ambon sebagai pranata humas.Inti dari tulisan ini adalah untuk menjelaskan kenapa saya pilih ambon.Mungkin nanti kalo ada yang nanya lagi kenapa pilih ambon,tak suruh baca tulisan ini aja.

Pertama kali saya buka situs pendaftaran CPNS LIPI,memang ada beberapa lokasi yang membuka formasi diberbagai daerah.Mulai dari jakarta sampe ambon.LIPI memang memperbolehkan kita milih 3 lokasi lowongan formasi.Jadi lokasi kita kerja adalah pilihan kita sendiri, bukan karna hasil test dan lain sebagainya. Saya yang berpikiran impulsif dan naif mikir kalo LIPI itu susah banget ditembus,makanya saya juga milihnya asal wong nggak nyangka kalo diterima.Waktu itu pilihan pertama saya asalah balai konservasi biota laut (di pilihan gak ada ambonnya waktu itu).

Pas liat pertama kali kayaknya menarik nih.Dibanding yg lain agak beda dan sesuai banget sama bidang pacarku.Karena pacar waktu itu sering banget cerita kalo dia bakal pergi ke kalimantan ato ke lebih jauh lagi dimana sesuai sama calon gelar sarjananya,makanya aku pilih ini sebagai pilihan pertama.Pas tau kalo diambon langsung aja aku ketawa.Pas telpon pacar dia kaget.Tapi akhirnya bilang oh ya bagus bagus bagus…dan aku balas dengan,nggak mungkin keterimalah nyong,ini LIPI gitu lho..ak juga belum slese S2 juga

Jakarta jelas bukan pilihan saya karna pacar saya pernah bilang nggak akan mau tinggal dan kerja di jakarta dan dengan nada agak nggak senang menyiratkan tidak suka aku kerja di jakarta.Tapi daripada pilihan 2 dan 3 gak diisi,akhirnya saya milih biro kerjasama dan pusat penelitian ekonomi di jakarta.Dan hasil akhir adalah saya masuk ke LIPI ambon.

Pada awalnya saya senang sekali bisa masuk LIPI ambon karena berpikir saya sudah more than one step closer dengan masa depan pacar saya yang bidangnya sesuai banget dengan kantor saya ini. Tapi semuanya runtuh pelan2 ketika pacar saya memutuskan untuk nggak jadi ke luar jawa *seperti kata-katanya dulu kalo lapangan kerja dia itu di luar jawa* karna mau usaha sama teman2nya di jogja aja.Bayangin gimana rasanya coba.Tapi ya mau gimana lagi,dulu memang saya nggak pernah bilang alasan saya sebenernya milih BKBL Ambon pertama kali sama dia.

Spirit makin rontok setelah MI nggak suka banget sama pilihan karir saya yang menurutnya adalah bunuhdiri karier dan bidang ilmu pengetahuan saya yang selama ini sudah saya rintis di jakarta.Yang kemudian membeberkan segala fakta buruk tentang LIPI dan Ambon.Belum lagi teman2 dan orang yang pada bengong dan heran kenapa saya milih ambon.Jujur saya tidak suka hidup di jakarta.3 tahun kerja dan ambil s2 di jakarta memang whole lot of fun.Tapi saya tidak ingin settle down di kota ini kalo udah berkeluarga dan punya anak

Pacar saya juga nggak suka.Saya selalu berpikir saya membutuhkan tempat tenang untuk belajar dan mengejar impian saya.Saya butuh banyak waktu dan fisik yang tidak digerus oleh lelah akibat macet dan polusi.Itu tidak saya temukan di jakarta.sementara kota lain,saya tidak begitu suka dengan kota-kota kecil yang ditawarkan di formasi.Dan saya udah keburu naksir BKBL karna itu saya memilihnya bukan karna terpaksa atau karna biar bisa diterima di LIPI karna saingannya dikit.Trust me saingan saya banyak walaupun nggak semua 21.000an dari seluruh pendaftar itu bersaing langsung dengan saya.

Saya baru mulai kesal manakala kenalan terus mengungkit dan mempermasalahkan jarak,orang tua,pacar dan kalkulasi uang yang harus dikeluarkan setiap saya pulang ke jawa.Saya jadi kepikiran. Paling berat tentu jauh dari orang tua dan pacar.Tapi pilihan sudah diambil..

Benar kata adit yang sekarang di pertamina sama mas uki yang sekarang di rekayasa industri,orang itu hanya melihat pucuk gunung es.Kelihatannya saja orang kerja di sini keren di sana keren tapi nggak liat dalamnya yang susah-susah.Banyak temen saya sekarang kecewa,bingung dan bahkan ada yang sejak prajab sudah frustrate duluan masuk LIPI padahal penempatan dan masuknya dia adalah pilihan saya sendiri.Tapi ada juga yang niat banget dan kelihatan sungguh bahagia kerja di LIPI. Yang terakhir ini tadinya adalah saya banget.

Tapi dengan fakta yang dijabarkan oleh orang-orang mengenai hubungan antara saya,orang tua saya dan pacar saya membuat saya down. Mayoritas orang yang belum kenal selalu melongo mendengar pilihan kerja saya.I’m begin sick and tired of people asking me:why? dan are you serious?

Dan terkadang suara-suara orang-orang itu menang karena memang mereka logis menurut pandangan dan norma umum,dan saya hanya menggunakan logika saya yang tak luput dari banyak porsi ego dan sedikit porsi alter ego.Apalagi anjuran dosen saya yang didukung oleh orang tua saya yang cukup menggiurkan membuat saya reconsider keputusan saya.

tempat saya mangkrak sementara ahahaha. sampai saya diberangkatkan ke lokasi tugas sebenarnya

Sungguh,yang menguatkan saya sekarang ini hanyalah komitmen saya sendiri *yang makin terkikis* untuk mempertanggung jawabkan konsekuensi pilihan,juga dukungan cinta dan senyum tanpa batas dari ayah ibu dan pacar saya *sigh…derita gadis impulsif*

i will survive am i?

don’t judge the book from it’s cover

Copy-an dari blog lama pas masih jadi reporter dulu, di post kembali dengan alasan biar blognya cepet penuh haghaghag

Don’t judge the books from its cover
Kata siapa?

Kalo dalam ilmu komunikasi dimana semua tanda bisa disemiotikkan, dimana semua atribut adalah sekaligus lambang, kayaknya kok agak susah ya nggak ngejudge orang dari covernya, walo aku sendiri nggak pernah ngejudge orang dari covernya tapi justru sering dijudge karena penampilanku sendiri.

Jujur deh, nggak ada lho manusia di dunia ini yang nggak ngeliat orang dari penampilannya dulu. Nggak mungkin orang nggak ngeliat orang lain dari penampilannya. Karena uda jelas!
dengan ngeliat atribut dan penampilan seseorang, kita bisa menempatkan diri biar sejajar atau kalo nggak empati ya simpati lah sama tu orang. Yea nggak mungkin aja kan kita ngomongin tentang dewi persik+saiful jamil sama orang yang baru aja kita temuin 5 menit lalu padahal dandanan orang itu: celana pipa ketat, kaos item belel ketat bladus hampir bolong, piercing dimana2, tato all over body, dan rambut merah ijo kuning di mohawk, muka ngajak berantem (walo aslinya ternyata ni orang ngefans abis ama saiful jamil misalnya).

Jaman kuliah aja juga gitu. Nggak tau ya, kalo yang lain gimana, tapi kalo aku, pas lagi bimbingan skripsi smpe berani pake sandal jepit, celana bolong pas di dengkul..ih boro2 dilirik, uda sukur skripsi nggak disobek2.

kalo mo hidup di masyarakat umum emang susah siy untuk nggk meduliin penampilan, kecuali kalo kita emang cuek2 banget. Atau emang sengaja make baju ato atribut aneh2 buat mengekspresikan diri. Faktanya, orang2 yg sengaja dandan aneh buat bukti eksistensinya pasti lebih suka di judge dari covernya, walo mereka pasti ngomel2 kalo orang2 salah ngejudge. Dandan ala harajuku misalnya. Dalam hati dia uda ngerasa modis banget, tapi kalo yang nggak tau kan..ih ya ampun mbaknya norak banget, nggak malu ya dandan kayak ondel2..

Taken from http://www.lolasurbanvintage.com/blog. hanya dan hanya cocok dipake di jepang dan acara cosplay.tapi ada teman saya yang nekat memakai di kehidupan sehari-hari. untung putih dan cantek juga cuwek bin Pe-De. jika tidak punya salah satu dari kriteria tersebut, mending reconsider lagi deh.

Ngeliat dari cover itu bukan berarti penampilan fisik doang lho. Bukan berarti merek baju apa yang kita pake, parfumnya harganya berapa,potongan rambutnya gimana dll (walo faktor2 ini biasanya yang jadi main things when we judge someone else).
Cover itu bisa dari attitude-nya, cara pandang matanya, ke-PD-anya, cara sosialisasinya dll.

Makanya kadang suka kasihan gitu sama orang2 yang suka diremehin gara2 penampilannya ngegembel padahal sebenarnya dia itu bukan gembel sama sekali, dan dia bukan berniat tampil gembel untuk mengekspresikan diri, dia hanya nggak tau bagaimana dandan biar nggak keliatan gembel karena dari sononya mukanya emang gembel.

Kadang kasihan juga sama orang yang misalnya: mukanya gembel tapi ngotot banget pengen tampil bling2..
walhasil malah keliatan maksa dan mengenaskan. Nggak tega siy ngasih contohnya, tapi gpp juga kok. Kalo untuk yang ini aku mendukungnya. Asal nggak gnggu orang lain aja nggak masalah. Soalnya kadang2 ada orang yang asal dirinya nyaman nggak masalah, padahal orang lain yang liat udah silau dan gatel banget pengen komentar misalnya. Yea asal nggak kelewatan siy it’s Okey. Go for it!!!
basicnya aku ngedukung semua orang aneh di dunia ini.

Back to the topic..
Emang siy kadang aku dandannya ngegembel walo muka (semoga aja) nggak gembel. Tapi kemaren pas aku lagi dikantor. Tiba2 temenku bilang kalo aku dapet salam dari tukang burjo (aku uda beberapa kali beli di t4 ni orang dan emang tukang burjonya rada kecentilan). Kata tukang burjonya gini niy..
Tukang burjo: Mbak2 temennya yang cakep itu mana ( maap..tp yg dia maksud adalah aku lho he2)
Temenku: Oh, dia masi di kantor mas
Tukang burjo: emang mbak2 ini pada kerja dimana siy, sales ya? sales apa?
Temenku: dengan sedikit ngakak dan rada dongkol juga dia menjelaskan pekerjaan kami sebagai reporter yang (harusnya) mulia itu..Begonya lagi, tukang burjonya nggak tau apa itu reporter.
Eh pas besoknya ke tempat itu lagi, pas kita malem2 beli burjo si tukang burjo malah bilang emang di toko mana sih kok sampe malem?buset deh!

Yea, secara kalo aku berangkat ke kantor pake tas ransel, trus ngepit tas kertas di pundak kanan, plus sandal jepitan..yah wajar lah dikira sales he2.

Katanya siy, wartawan ekonomi itu modis2,wah2..emang bener siy. Kalo katanya wartawan identik dengan backpack, kumel dan nggak mandi, salah banget itu.
Untung belakangan aku sadar kalo mo wwncr narasumber yg mayoritas emiten, dan pengusaha dll itu nggak boleh ngegembel.
Karena dulu pas magang juga pernah wwncr orng penting dan aku dikira masih SMP!!!padahal udah semester 10!!
Udah gitu, pas bimbingan skripsi, dan pendadaran, dengan wajah smiley plus hobi ketawaku, aku dikira nggak serius dan ngeremehin dosen coba!!!sumpah pak bukan itu maksud saya..

oh ya, bukannya aku suka ngejudge penampilan orang lain tapi aku pernah sekali salah menginterpretasikan seseorang. Pas itu di kantor aku ma temenku laper banget, dia bilang nitip OB aja.
Eh ada mas2 berdiri di situ, langsung aja aku bilang ma temenku, eh itu ada OB.
Pas aja aku mo manggil, temenku langsung buru2 bilang jangan!!!
ada apa gerangan..ternyata mas2 yg mukanya mirip OB dan dandan juga nggak jauh beda dari OB itu adalah: Fotografer di kantor kita.Profesional lagi..Ya allah..ya allah..
untung banget belom tereak: Mas titip pecel ayam 1 ama tempe 2 dibungkus ya!!
duh bisa kasus kalo sampe kejadian. Tapi bisa jadi kejadian sebaliknya terjadi, mas itu yang belom kenal aku juga ngira aku sejenis OB he2. Untung di kantor cuma ada OB gak ada OG he2,,

Tapi sebaliknya, aku ngeliat pembantunya ibu kost-ku dulu..
ya ampun cantik lho..masih 17 tahun, baru lulus SMP,mana putih, seger pula, modis, khas orang bogor..pokoknya anak gaul masa kini deh..
kalo orang2 ngeliat pasti uda dikira anaknya bu kost deh secara bu kost kaya abis..dibanding dengan anak2 kostnya yang kumel2 abis he2..
jauh deh…
Kalo dari fisik si nggak ketahuan kalo dia itu pembantu, baru ketahuan kalo udah ngomong.
Jadi luar itu penting, tapi dalem juga lebih penting. Tapi ya gitu,kalo luarnya aja udah bikin males, gimana orang mo ngenal ampe ke dalem2..ya toh..
Tapi ya gitu deh, aku tau penampilan itu penting, tapi all i can do ya sebatas yang aku mampu. Yea minimal mandi itu wajib lah..wangi itu harus lah..nyisir itu penting lah..
Tapi sandal jepit…duh susah deh kayaknya..
pengennya just be my self, tapi kok orang2 suka salah persepsi..
Lagian kalo hidup seenak perutnya sendiri kok ya kadang nggak enak juga, secara kita hidup di masyarakat umum..tapi kalo diatur ini itu juga gerah…

ah susah memang jadi manusia..