Bukan, curiga dan menuduh. cuma berusaha mengurutkan kronologis dan menggabung-gabungkan berita dan fakta saja. sudah beberapa tahun saya nggak pernah ngamatin berita politik. apalagi setelah pak beye jadi presiden, politik sepertinya nggak bisa diamati. pengamat-pengamat politik yang dulu-dulu suka ngoceh juga sepertinya bingung melihat fenomena gerakan pak beye dan pemerintah, kalau nggak bingung ya mungkin sekarang udah temenan. jadi nggak ngoceh lagi.
saya nggak peduli sama gayus, sama pembangunan gedung dpr, sama anggota dpr yang katanya suka plesir, sama pak beye istri anak dan turunannya, pengalihan-pengalihan isunya mulai dari senturi, jayus, de el el. tapi berita tentang kerusuhan berbau SARA di temanggung kemarin mengusik saya. sudah tidak usah saya ceritakan inti kerusuhannya apa, nanti malah jadi panas. hanya saja kerusuhan ini terjadi nggak jauh dari kejadian penyerangan ahmadiyah di cikeusik belakangan lalu, dan terutama karena temanggung adalah tempat lahir saya.
Dua kejadian ini juga terjadi nggak jauh setelah Senin 10 Januari 2011 lalu, sejumlah LSM dan tokoh lintas agama, yakni Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr Martinus Situmorang, Andreas Yewangoe, Buya Syafii Maarif, Franz Magnis Suseno, KH Salahuddin Wahid, dan Biku Sri Pannyavaro membuat pernyataan sikap dan mengkritik pemerintah telah melakukan banyak kebohongan publik. Mereka mengingatkan 9 kebohongan lama pemerintah dan sembilan kebohongan baru. Karena itu, mereka mencanangkan tahun ini sebagai tahun perlawanan terhadap kebohongan dan pengkhianatan.

- senyum pak beye nan malu-malu.manis begini kok dibilang pembohong
. taken from http://www.tribunnews.com/foto/bank/images/presiden-sby-senyum.jpg
sejak saat itu pemerintah dan pak beye terutama seperti gerah dengan para tokoh lintas agama ini. simak saja perkataan pak marzuki ali nan pintar dan bijaksana: “Pemimpin itu wajib dihormati, dipatuhi, serta didoakan,” kata Marzuki di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin, 17 Januari 2010. “Sangat tidak tepat membawa umat untuk melawan pemerintah berdasarkan informasi yang belum jelas.” — mungkin dia lupa, dulu dia pernah bilang sama orang mentawai: resiko tinggal di daerah pesisir. kenapa dia sekarang nggak bilang: resiko jadi presiden?. Dia malah bilang tokoh-tokoh agama itu jangan membimbing umat menjauhi pemerintah.
lha si pramono anung lebih romantis melankolis lagi : “Kenapa para agamawan itu memilih angka 9 dalam rilisnya, yaitu 9 kebohongan lama dan baru pemerintah? Sembilan kan angka favorit Presiden. Tentu ini sangat menyentuh Pak SBY,” ujar Pramono di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin, 17 Januari 2011.pilihan diksi ‘bohong’ pun sangat menggigit. “Stigma dan diksi ‘kebohongan’ saya lihat sangat mengganggu pemerintah, terutama Presiden. Dari kecil kita kan sudah dididik untuk tidak berbohong,” katanya. Nah itu tau. trus hubungannya sama angka favorit sebenernya gimana?tau aja sih kalo 9 angka favorit si bapak?
Bukan salah masyarakat kalau mereka tidak percaya pemerintah dan lebih percaya tokoh lintas agama. kata Budiarto Shambazy di kolom Opini Kompas yang judulnya “Dua Indonesia” , rakyat telah berpaling ke tokoh lintas agama karena aspirasi mereka tidak lagi tersalurkan melalui DPR, partai-partai—kecuali kelompok oposisi—atau para politisi. Pak beye pasti baca tu artikel.
padahal di artikel sudah dibilang, “:Tolong dipahami tokoh lintas agama tidak memiliki kepentingan politik transaksional. Fungsi utamanya, seperti kata Buya Syafii Maarif, mengingatkan pemimpin/pejabat/politisi yang ”merasa benar walaupun berada di jalan yang sesat”.
Nggak tau, tapi kemungkinan tokoh sentral yang mungkin diwaspadai adalah din syamsudin *mungkin, saya kan nggak neliti, cuma khayal aja*. Si Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin ini, pas diundang pak beye ke istana sebelumnya juga membuat rilis berupa keterangan pers yang menekankan bahwa para tokoh agama tidak mau dikooptasi dalam pertemuan itu. “Pertemuan dengan Presiden tidak untuk berkompromi. Tokoh lintas agama tidak akan mau dikooptasi”.–waduh, malah nantang coba.
kalo dihubungkan dengan penyerangan ahmadiyah dan kerusuhan di temanggung, mungkin timing kronologisnya nggak terlau tepat karena kisruh ahmadiah itu udah lama dan berlarut-larut, malah cenderung seperti dibibitkan untuk menjadi konflik. bukan masalah baru. lalu kasus penistaan agama di temanggung juga sudah lama. saya diceritain sodara saya, buku-dan selebaran itu ada pas lebaran 2010. sidangnya aja yang baru kemarin.

sibuk ngurus begini, mungkin nggak akan sempat campur tangan ke urusan pemerintah
tapi kalau pakai ilmu jawa utak-atik gathuk ya bisa pas juga, atau dipas-pasin dan nggak terlalu maksa. yang jelas dengan adanya kerusuhan yang berbau SARA ini para tokoh lintas agama harus bekerja eksta keras untuk menenangkan umatnya. jadi pak beye tidak perlu bilang tokoh agama, tolong jangan campuri saya urus aja itu umat. soalnya akibat telat membungkam, setelah acara para tokoh lintas agama ini, ada acara Pernyataan kekecewaan atas pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono yang disuarakan 100 tokoh dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Di Gedung Juang, Menteng Jakarta Pusat. Semua yang kecewa berani bilang.
Bayangkan jika tidak buru-buru disetop. apalagi yang terlihat menonjol perannya adalah pak din yang ketum muhammadiyah *hanya sepertinya- perlu bukti lebih lanjut*. mungkin pak beye inget amien rais yang bisa mengerahkan begitu banyak massa ke gedung DPR/MPR hampir 13 tahun lalu. wihhh bukan hil yang mustahal nih muhammadiyah nantinya diawasi ketat pergerakannya. sayang saya bukan orang muhamaddiyah, jadi semua hanya dugaan dan perkiraan saja.
Ya sudah, kita lihat saja perkembangannya. apakah momen kisruh-kisruh ini akan membuat para tokoh lintas agama berhenti mengkritisi pemerintah dan mengurus umatnya masing-masing?apakah kisruh-kisruh ini memang bisa dipakai pak beye sebagai momen lepas dari perhatian para tokoh lintas agama?lalu ada agenda politik apa dibalik kisruh-kisruh itu semua?apakah ada hubungannya dengan konspirasi-konspirasi besar di bumi?*halah*..atau ya cuma kisruh-kisruh biasa?
yah mungkin jawabannya kita tunggu aja berita-berita berikutnyah.
yang jelas, jaman lagi edan begini jangan gampang terprovokasi sama media, isu, provokator de el el fiuwhhh
cuma sedikit pemikiran saya di tulisan ini. kebanyakan hanya nyambung-nyambungin dan tambal sulam dari:
http://cetak.kompas.com/read/2011/01/22/03302619/dua.indonesia
http://politik.vivanews.com/news/read/199677-tokoh-agama-jangan-bawa-umat-jauhi-pemerintah
http://politik.vivanews.com/news/read/199643-pramono—9-kebohongan–menohok-presiden
http://politik.vivanews.com/news/read/199559-dituding-bohong–sby-undang-tokoh-agama
http://www.detiknews.com/read/2011/02/08/152754/1562658/10/massa-diduga-dari-luar-temanggung-perbatasan-dan-gereja-dijaga-aparat?nd992203605
http://www.detiknews.com/read/2011/02/08/165718/1562761/10/kronologi-rusuh-temanggung-versi-polisi?nd992203605
Tags: politik, world peace
they said